Kurenggut Perawan Dewi

Aji adalah namaku, OB di salah satu perusahaan swasta kecil di Ibukota. Tiga bulan pertama ada karyawan baru yang masuk untuk bagian resepsionis. Namanya Dewi. Wanita cantik, tinggi kurang lebih 165cm, berat 50kg, bibir sensual, ramah, suka senyum, senang pakai rok mini dan sepatu hak tinggi, kulit bersih dan rambut sebahu.

Suatu siang, aku sedang terburu-buru karena dipanggil Boss untuk menyiapkan sajian kepada tamu yang datang dari Kalimantan, tanpa sadar aku berpapasan dengan Dewi yang sedang berjalan sambil melihat hape tanpa memerhatikan jalan sehingga terjadi tabarakan tanpa sengaja antara aku dan Dewi. Tubuhnya tinggi bila dibanding wanita biasa kira-kira 170 cm plus sepatu, soalnya tubuhku juga sekitar itu, secara reflek aku memeluknya karena takut terjatuh. Dalam dekapanku terasa harum parfum yang membuat darahku berdesir mengalirkan hawa nafsu hingga keubun-ubun.

“Duh, maaf mas Aji. Aku gak liat, ini sambil baca e-mail kerjaan dari bapak.” Ucap Dewi memelas.

“Iya, Mbak Dewi gapapa. Aku juga lagi buru-buru dipanggil si bapak soalnya hehehe.” Jelas ku sambil pamit untuk ke ruangan bapak boss.

Setelah itu kamipun kembali bekerja dengan kesibukan masing-masing dan tidak memikirkan lagi kecelakaan tadi. Kira-kira setengah jam sebelum jam kerja berakhir, aku hubungi dia lewat telephone untuk mengajak nonton dan kebetulan filmnya bagus sekali. Eh ternyata dia setuju kalau nontonnya hanya berdua saja.

Selama dalam perjalanan ke tempat tujuan kami ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan dan tertawa dan kutanya apakah dia sudah punya pacar? Dijawab baru putus tiga bulan yang lalu makanya dia memutuskan untuk pindah tempatku. Kupikir dia ini lagi labil dan kebetulan sekali aku mau mendekatinya.

Setelah membeli karcis dan makanan kecil kami masuk ke dalam gedung yang masih sepi… biasanya juga sepi sih…. aku mengambil posisi di tengah dan boleh pilih tempat kata penjaganya…

Sesaat filmpun dimulai… tanganku mulai menyentuh tangannya… dia masih membiarkan... Mulailah pikiran kotorku… kuremas secara halus…. dia hanya membalas dengan halus…. Kudekatkan wajahku ketelinganya… nafasku mulai masuk melalui lubang telinganya yang sedikit terhalang oleh rambutnya yang harum…

Kuberanikan untuk mencium leher… dia hanya mendesah, “aaahhhhh……” kuarahkan ke pipi lalu ke mulutnya….. pertama kali dia menutup mulutnya tetapi tidak kuasa untuk membukanya juga karena aku terus menempelkan mulutku pada bibirnya…. “Ssssshhhhh……” Tanganku tetap meremas jemari tangannya lalu pindah ke leher dan sebelah lagi ke pinggang… lama kelamaan naik ke buah dada yang masih terbungkus oleh pakaian seragam kantor… lidahku mulai memainkan lidahnya begitu pula sebaliknya…. Ku perhatikan matanya mulai terpejam… jemarinya mulai agak kuat meremas tubuhku…. kami tidak memperhatikan lagi film yang sedang diputar.

Aku raba kebagian paha…. tetapi terhalang oleh stokingnya yang panjang sampai perut… sudah tidak sabar aku untuk meraba kemaluannya… dia menarik tanganku agar jangan meraba barangnya… kuraba terus akhirnya dia mengalah…. kubisikan untuk melepaskan stockingnya, kami lepas semua permainan sejenak… hanya untuk melepas stocking yang dia pakai… setelah itu kembali lagi ke permainan semula…. kurogoh dengan tanganku yang kekar dan berbulu selangkangannya yang masih terbungkus dengan cdnya… tanganku mulai kepinggulnya. Ternyata dia memakai cd yang diikat disamping, kubuka secara perlahan agar memudahkan untuk melanjutkan kememeknya, yang terdengar cuma suara nafas kami berdua, sampailah aku kepermukaan pusar lalu turun kebawah, betapa kagetnya aku raba-raba ternyata bulunya hanya sedikit.

Kulepas mulutku dari mulutnya dan bertanya, “Wi, bulunya dicukur ya?” Bukan jawaban yang aku terima tetapi tamparan kecil mendarat dipipiku… plak! Ku lanjutkan lagi…. sampai akhirnya film sudah selesai.

Kubisikan lagi, “Saya ikatkan lagi ya, Wi.” Tidak dijawab, kuikatkan kembali, filmpun berakhir kita semua bubar. Melangkah dianak tangga ke tujuh, dia menarik aku lalu membisikan “Ji, talinya lepas….” buru-buru aku pepet samping kiri pinggulnya agar orang tidak menyangka.

Turun lagi keanak tangga kesembilan eh dia bisikan lagi “Ji satunya juga, kamu sih, ikatnya nggak kencang”

“Sory dech…” Kataku.

Akhirnya dia menuruni tangga dengan merapatkan kaki dan memegang samping kiri roknya. Cepat cepat aku ambil motor sementara dia berdiri menunggu.

“Sampai juga akhirnya…….” kita berdua hanya cekikikan saja.

“Mau kemana lagi kita sekarang….” kataku

“Terserah aja soalnya mau pulang males, lagi ribut sama mama.” Jawab Dewi singkat. Lalu kupercepat laju motorku menuju pondok tirta di Halim.

Begitu sampai, langsung masuk ke kamar, ngoborol-ngobrol sebentar, lalu aku kekamar mandi untuk mencari kondom berwarna hitam yang selalu aku siapkan di dalam tas dan kembali lagi terus kuciumi dia sampai nggak bisa nafas. “Eeeggghhhhh……” sambil mencabut mulutnya, “Pelan-pelan dong, Ji.”

Mulailah aku menciumi secara perlahan sambil membuka baju dan behanya.

Teteknya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, putingnya mungil berwarna coklat gelap. Kuciumi teteknya, “Sssshhhhh……” sambil menjambak rambutku. Kumainkan lidahku di putingnya yang satu sementara yang satu lagi meremas tetek lainnya. “Ssssshhhhhh……. “, nafas yang memburu.

Kuturunkan roknya lalu celana dalamnya dan kubaringkan ketempat tidur sambil terus menyusu, “sssshhh……ooohhh….. Ji...” Desah Dewi.

Aku tak peduli dengan suara itu, dan benar saja bulu jembutnya hanya sedikit dan halus-halus lagi, kubelai-belai meski hanya sedikit, lalu kumainkan itilnya yang sudah basah, dia agak kaget.
“Aaauuu, ahhhh...” ku perhalus lagi permainkanku, mau kumasukan jemariku kememeknya tapi, “Aaaaauu, sakit Ji!” Teriak Dewi. Lho anak ini masih perawan rupanya, pikirku.

Kujilati terus pentilnya sambil kubuka seluruh pakaianku, tampaklah dua insan manusia tanpa benang sehelaipun, dia memperhatikan kontolku sejenak lalu tertawa, “Hahaha,” kenapa kataku, “Bentuknya lucu…” katanya polos sambil meremas pelan kontolku dengan tangan kirinya. Lalu pelan pelan ku geser pahanya agar merengang.

Ku pasangkan kondom yang baru ku beli tadi pagi, harganya gak terlalu semahal yang lainnya, tapi kondom berbungkus hitam ini selalu jadi andalan untuk urusan ranjang. Setelah itu, kuatur posisi untuk siap menerobos lubang memeknya.

“Eeghhh… egghhh….” belum bisa juga, dua kali baru kepalanya yang masuk, aku tidak kehilangan akal, kujilat terus puting susunya dan secara perlahan ketekan pantatku agar masuk seluruh kontolku dan “Ssssssshhhhhh... Eeeeggghhhh… Sssshhhh…” barulah masuk seluruhnya dan mulai kuayunkan secara perlahan sekali, “Sssssshhhhhh…. Ssssshhhhh… Aaakkhhhh….. Ji…..”

“Ji……. “hanya itu suara yang terdengar, makin lama makin cepat ayunan pantatku dan kurasakan seluruh persendianku mau copot, “Sssssshhhhhh… Ooohhhh… My god…” Katanya.

Aku hentikan permainan karena aku mau keluar jadi kuhentikan sesaat, eh dia malah membalikkan tubuhku, kuatur posisi kontolku agar pas dilobang memeknya dan bbbllleeess, masuk lagi kontolku dalam lumatan memeknya yang masih kencang. Dia menaikan dan menurunkan badannya, “Ssshhhh…. Sshhhh… Aahhhh…..” Mulut ku disumpalnya dengan susunya dan putingnya sudah menegang semua seperti kontolku yang menegang dari tadi.

“Ssssshhh… Aaaaahhhhh…. Ooohhhhh… Sssssshhh…” lima menit kemudian, dia menjambak rambutku dan mejatuhkan tubuhnya ketubuhku. “Ji… Aaaakkkkkhhhh… Jiiiii… Sssshhhhh….” Rupanya dia mencapai klimaks, dan aku merasakan kejutan dari lubang memeknya seperti empot ayam.

“Sssshhhhhh… Aaahhhhhh… Jiiiiiiiiii…” Pejuku nyemprot didalam liang memeknya kira-kira empat atau lima kali kejutan, untung pakai kondom kalau tidak bisa repot, begitu pikirku.

Akhirnya kami berdua lemas dan bermandikan keringat. Sesaat tubuhnya masih menindih tubuhku dan kuciumi dia dengan mesra. Lalu dia menggeser ke kasur, kuambil sebatang rokok untuk kuhisap, ternyata dia ingin menghisap kontolku lagi.

“Aaahhh…..”, sambil memijat-mijat kontolku… “Jangan dikepalanya…” kubilang

“Emangnya kenapa??” Tanya Dewi.

“Ngilu tau, he… he… he…”

Kutanya secara perlahan,“Wi, hhmmm, cowok kamu dulu suka begini nggak?”

“Nggak berani…” Jawabnya singkat sambil menyudahi hisapannya di kontolku.

“Jadi ini yang pertama?” Tambahku.

Dewi hanya mengangguk, aku tidak memperhatikan kalau dikontolku itu ada tetesan darah dari memeknya. Dia berjalan menuju kamar mandi, lalu berteriak kecil, “Aaauuuu!”

“Kenapa Dewi?!” Tanyaku sedikit bingung.

“Kencingnya sakit.” Jawab Dewi.

Lalu kami mandi dan membersihkan badan berdua. Tanpa terasa sudah jam delapan tiga puluh, kami memesan makan malam dan disantap tanpa busana.

Setelah santap malam kujilati lagi puting susunya sampai menegang kembali, aku meminta untuk mengulum kontolku tapi Dewi hanya menggeleng, kuraba memeknya juga mulai basah.

Kubalikkan dia, kuarahkan kontolku keliang memeknya dari belakang, “Aaaauu…..” Teriaknya kaget dan terus kuayunkan daari pelan sampai begitu cepat.

“Sssshhhhh… ssshhhhh… ssshhh… Enakkk Jiiiii...”

Lalu dia minta aku berbalik dengan posisi terlentang sedang dia mulai menaki tubuhku sambil susunya disodorkan untuk dilumat lagi.

Kuarahkan lagi tanpa melihat dimana posisi lobangnya dan bless, dia mulai mengayunkan tubuhnya.

“Sssssshhhhhh… Sssshhhhh… Aaaahhhh… Ji…” Lima menit kemudian tubuhnya kembali mengejang dan “Aaaahhhhh……. Ji…” Sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kini giliran aku yang tidak bisa bernafas karena tertutup rambut, kuhentakkan pantatku kuat-kuat dan kuayunkan pantatku terus lalu, “Ssssssshhhhhhh….. Dewiiii………” pejuku yang kedua keluar.

Kami istirahat sejenak lalu mandi air hangat lagi dan kutengok jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kuantarkan dia pulang kerumahnya dibilangan tebet timur.

Keesokan harinya kami bekerja seperti biasanya, tetapi dia menghubungiku, “Ji, masih sakit kalau pipis. Tuh sampai tadi pagi juga sakit.”

“Nggak apa-apa, tapi enak kan? Mau nambah?” Tanya ku menggoda.

“Nanti ya...” Jawab Dewi singkat. Aku hanya tersenyum membaca pesan singkatnya.

Semenjak saat itu aku secara rutin menyetubuhi Dewi, baik karena kemauan aku, atau karena libido Dewi yang sedang naik. Kita bahkan sempat beberapa kali melakukannya di kantor secara diam-diam bila memang nafsu sudah tidak bisa tertahankan.

Salah Sangka

"Hey, penyanyi dangdutnya jangan dicolek!" Mas Alim menegurku.

"Sorry, Mas. Abis nafsu sih. Field job berminggu-minggu nggak ketemu istri begini... berasep juga deh pala," aku beralasan.

"Iya, aku ngerti. Tapi jangan ama si Neneng, dia nggak bersih, lagian nggak cantik juga." Mas Alim menasehati lagi. Lalu dia berbisik, "Ssst, kalo emang udah nggak tahan, ada kok solusinya," begitu dia bilang.

Dalam hati aku kaget juga. Masak sih Mas Alim yang beneran alim ini nawarin 'solusi'? nggak salah?!

"Ssst, denger ya... dari basecamp ini, kamu jalan deh ke bawah sana. Temui Mbak Ratna, wanita cantik yang baru pindah dari kota. Ama dia bereslah... sabtu-minggu dia bebas, kita-kita sering kok pake jasa dia," katanya mengedip.

Ya udah. Mengikuti rekomendasi Mas Alim, sabtu pagi, blas! Aku menghilang, turun menuju kantor desa itu. Pas ketemu Mbak Ratna, kaget juga. Ternyata dia cantik sekali, sangat putih dan manis, tubuhnya juga seksi abis, tinggi dan sangat montok walau agak sedikit gemuk. Tak apa, yang penting perabotnya tetap bulat dan membusung, tipe kesukaanku. Sayangnya, dia agak sulit dirayu. Tapi karena sudah telanjur konak, ditambah sudah direkomendasi sama Mas Alim, maka aku pun nekat. Kudekati dia.

“Malam, Mbak.“ sapaku dengan sopan.

“Malam juga,“ sahut Ratna yang kemudian memperkenalkan diri, nama lengkapnya ternyata Ratna Dumilah, kelahiran Surabaya, 20 Desember 1983. Kujabat tangannya yang halus saat dia mengulurkannya sambil sekaligus kulirik besaran buah dadanya yang sedikit terbuka. Hmm, cukup montok dan bulat juga.

“Kamu kerja sama Mas Alim ya?” tanyanya kemudian.

“Iya, saya temennya.“ sahutku dengan tersenyum.

Dengan tidak canggung, kami mulai saling ngobrol. Kubelikan dia minuman agar kami menjadi semakin akrab.

”Nggak usah, Mas. Jangan repot-repot.” dia menolak dengan halus.

“Nggak apa-apa, Mbak... saya senang dapat teman baru,“ sahutku dengan senyum menggoda sambil terus mencuri-curi pandang ke arah buah dadanya yang over size itu, kubayangkan kepalaku tenggelam dalam belahannya yang curam dan lembut, ugh betapa nikmatnya.

”Betah kerja disini?” tanya Ratna lebih jauh.

“Yah, lumayan. Apalagi kalau ditemenin wanita cantik seperti Mbak.“ kataku menggoda sambil menaikkan sedikit kepalaku sehingga bisa melihat lebih dalam tonjolan buah dadanya.

Ratna ikut tersenyum sambil semakin merendahkan dadanya, membuat segala yang ada disana jadi menggantung sangat indah. “Ah, mas bisa aja,” sahutnya.

“Mbak disini kerja apa?” tanyaku penasaran.

“Saya ngajar kesenian di SD, cuma bantu-bantu, biar ada kegiatan sambil nungguin anak saya yang lagi diterapi.” jelasnya.

”Diterapi?” tanyaku tak mengerti dengan mata kembali mencuri ke arah belahan buah dadanya.

”Iya,” ia mulai menjelaskan segala tentang Alya, putri kecilnya yang divonis autis oleh dokter. ”Begitu mendengar kalo disini ada terapi autis yang bagus, saya langsung kesini.” tambahnya.

Aku ikut simpati mendengarnya, tapi tetap tak menyurutkan niatku untuk bisa menikmati kesintalan tubuhnya. Habis sudah telanjur konak sih. Sore itu kami ngomong banyak, Ratna curhat banyak kepadaku bak teman lama yang baru bertemu kembali. Tapi saat kuutarakan niatku, dia langsung menyuruhku untuk diam.

”Iya, saya mengerti.” potongnya. ”Seperti yang biasa dilakukan mas Alim dan teman-temannya kan?” tebaknya.

Aku mengangguk. ”Jadi, kita langsung aja?” tanyaku sambil melirik paha mulusnya yang dibalut rok pendek ketat selutut.

”Tarifnya tigaratus ribu sehari, sudah tahu kan?” tanyanya.

Aku mengangguk lagi. Uang segitu sih kecil buatku, malah menurutku sangat murah bila dibanding tubuhnya yang sintal. “Jadi kalau sampai minggu sore, saya harus bayar enamratus ribu gitu?” tanyaku.

Dia mengangguk. ”Dan dibayar di muka, hehe” Ratna tertawa.

Kukeluarkan dompetku dan segera membayarnya. Setelah menerima dan menghitungnya, Ratna kemudian menyelipkannya ke balik saku. ”Saya senang berbisnis dengan orang-orang kayak, Mas.” dia tersenyum.

”Saya juga, senang bisa mengetahui ada orang secantik mbak di desa terpencil seperti ini,” sahutku.

”Kalau bukan karena mau mengobatkan anak saya, nggak mungkin saya berada disini, Mas.” balasnya.

Kami kembali saling menatap dan tersenyum. “Hmm, suami Mbak dimana?” tanyaku mulai merayu. Aku tidak ingin pas lagi enak-enaknya tiba-tiba suaminya datang mengusirku.

“Suami saya ada di Jakarta, bisnisnya nggak bisa ditinggal,” jawaban yang cukup melegakanku.

Tidak berkata lagi, segera kupegang kedua tangannya. Ratna sedikit terkejut menerimanya, mungkin karena baru kali ini ada calon pelanggan yang lebih nakal dari dirinya, hehe.

“Maaf, jangan seperti ini.” Ratna tersenyum, namun kemudian menunduk. Saat itulah, dia tanpa sengaja menatap selangkanganku yang sudah menonjol indah, batang kontolku yang sudah ngaceng berat tercetak jelas disana.

”Kenapa tidak? Saya kan sudah membayar mbak.” kulancarkan serangan susulan, cepat kulingkarkan tanganku ke pinggangnya yang ramping.

“Iya, tapi bukan... Jangan nakal, Mas!!“ tolak Ratna ketika aku berusaha mengusap bokongnya.

”Saya cuma pingin meluk mbak aja kok,” sahutku pendek dengan tetap tersenyum. Ratna terdiam, membiarkan tanganku menempel di pinggangnya. Perlahan aku mendekat ke tubuhnya yang harum, rambut pendeknya yang dicat coklat membuatku semakin mabuk kepayang. Aku terus melancarkan gerilya, tanganku yang nakal mulai merambat ke atas menuju ke tonjolan buah dadanya.

“Tolong, Mas. Kita tidak boleh melakukan ini.” kata Ratna dengan nafas memburu, ia tampak mulai tak tenang. Tangannya berusaha menekan tanganku yang sudah sangat dekat dengan buah dadanya yang besar itu.

“Sudahlah, saya sudah bayar Mbak untuk melayani saya ngentot malam ini.” jawabku enteng sambil langsung memegang buah dadanya.

“Jangan kurang ajar, Mas... Mas salah paham!” hardik Ratna sengit.

Namun aku tak peduli. Aku sudah telanjur konak dan kepalang basah, segala omongannya tidak lagi aku dengarkan. Yang ada di pikiranku cuma bagaimana bisa secepatnya merasakan tubuh montok wanita yang satu ini. Jadi langsung kubekap mulut manis Ratna dan kutekan tubuhnya ke sofa. Ratna awalnya berusaha memberontak, namun tentu saja kalah tenaga denganku. Aku sudah memeluknya erat sambil terus memegangi buah dadanya yang besar itu, tanganku meremas dan memencet-mencet lembut disana.

“Aku aku ingin dirimu, Mbak... kau sungguh menggodaku!“ bisikku dengan nada pelan sambil tanganku meluncur nakal menuju ke arah selakangannya. Ratna berusaha terus memberontak, namun rontaannya itu lama-lama menjadi lemah dan akhirnya berhenti sama sekali. Mungkin dia sadar kalau usahanya itu akan sia-sia belaka.


“Jangan... saya wanita baik-baik... mas sudah salah paham!“ jerit Ratna panik saat tanganku mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu.

”Sudah terima uang, tapi nggak mau melayani... apa itu yang disebut wanita baik-baik?!” tuduhku dengan mata tak berkedip memandangi buah dadanya yang mulai menyembul indah.

Ratna terlihat marah sekali, wajah cantiknya sampai merah padam dibuatnya. ”Mas tidak mengerti, uang itu....”

“Untuk membayar tubuhmu, Mbak!” kupotong ucapannya sambil tersenyum, lalu kuangkat dagunya yang lancip dan langsung kuserbu bibirnya yang merah tipis.

Awalnya Ratna terlihat sangat terkejut, dia menolak keras lumatanku, sekuat tenaga dia berusaha mendorong tubuhku yang kini sudah menindih tubuhnya. Tapi saat tanganku dengan kurang ajar menyelinap ke dalam roknya dan langsung masuk ke balik celana dalamnya, dia langsung terdiam. Bahkan desah dan rintihannya yang mulai terdengar, menggantikan umpatan-umpatan kasar kepadaku sebelumnya. “Ooh... ooo... ooh... Mass... jangan!“ bisiknya dengan nada lemah.


“Jangan apa? Jangan berhenti?!” sahutku nakal sambil mengelus-elus lubang memeknya yang terasa hangat di telapak tanganku. Ratna hanya terdiam pasrah menerimanya. Kembali aku menunduk untuk melumat bibirnya, untuk kali ini, Ratna tidak menolak. Kami saling beradu bibir. Dia menanggapi ciumanku dengan perlahan-lahan, sementara di bawah, tanganku semakin gemas mencolek-colek liang memeknya.

“Mass... oughh... s-sudah... aah… aku...“ rintih Ratna kegelian.

“Sst... diam, mbak nikmati aja.“ sahutku sambil menurunkan cup bra ke bawah sehingga bagian dadanya yang besar itu menjadi tontonanku. Di bawah, kutarik celana dalamnya hingga ke lutut, membuatku bisa semakin nakal mempermainkan lubang vaginanya.

“Duuh… kok kamu nekat sih, Mas... kalau ketahuan orang gimana?“ tanya Ratna dengan mata merem melek keenakan.

Bukannya menjawab, aku malah membuka resluting celanaku dan mengeluarkan kontolku yang sudah menegang dahsyat. Mata Ratna langsung melotot begitu melihatnya, dia sampai menutup mulutnya dan mundur sejengkal begitu menatap kontolku yang sudah ngaceng besar.

Aku kemudian berdiri di depannya, “Emut kontolku, Mbak!!“ pintaku sedikit memaksa.

“Mas, ini bukan urusan seks, tapi...“ elak Ratna.

Tapi aku segera memotongnya kembali, “Lupakan... rasakan kontolku dulu. Mbak juga nakal, dari tadi lirak-lirik selangkanganku terus.“ sahutku sambil menekan kepalanya, memaksa Ratna untuk menelan batang penisku. Sadar kalau tidak bisa mengelak, diapun menurut. Ratna mulai menjulurkan lidahnya untuk menjilati ujung kontolku, kusingkapkan rambutnya agar dia bisa leluasa bergerak, aku juga ingin melihat bagaimana wanita cantik itu mengulum kontolku.

Dengan tangan gemetar, Ratna memegangnya. Setelah dia menjilati kontolku empat kali, dia mulai membuka mulut dan mengulumnya. Tapi baru sebentar saja, dia sudah merasa jengah dan meludah ke lantai. Rupanya kontolku yang besar itu tidak sanggup disantap olehnya. Namun aku yang sudah kepalang basah terus memaksanya. Sambil kembali kubuka mulutnya, mulai kulepas kemeja hijau yang ia kenakan, kulepas benda itu hingga kini kebesaran buah dada Ratna benar-benar terekspos indah, membuatku langsung gila dan lupa daratan.

Kususupkan tanganku kesana untuk memegangi bulatannya yang over size, kuremas-remas pelan benda itu sambil kuelus-elus ringan putingnya. Rasanya yang begitu lembut dan kenyal semakin membuatku bergairah dan penasaran, cepat kupelorotkan celanaku hingga kami jadi sama-sama telanjang. Ratna memandang tubuh bugilku dengan sinis, terlihat sekali kalau dia masih belum rela melakukan ini. Dalam hati aku bingung juga, apa sih yang dia inginkan? Uang sudah ia terima, tapi kenapa masih belum total dalam melayaniku?

Kontolku yang besar menjulang karena ngaceng kembali kusodorkan ke mulutnya, Ratna menampiknya hingga benda itu jadi menempel di pipinya. Aku tersenyum kepadanya, namun Ratna segera memalingkan mukanya ke samping.

“Ayo dong, Mbak... kan sudah kubayar sesuai tarif, emang uangku kurang ya? Tuh lihat kontolku sudah ngaceng pengen ngewe memek Mbak Ratna.“ rajukku sambil semakin kalap memeluk dan mengelus-elus kemontokan buah dadanya yang terburai ke keluar.

”Sudah, Mas... jangan! Bukan masalah uangnya, tapi...” tolaknya dengan setengah hati.

“Hmm... susu Mbak gede banget! Saya suka bermain di susu yang gede, nanti kontolku kugesek-gesekkan kesitu ya?!“ kataku, membuat Ratna cepat-cepat menutupi kedua buah dadanya dengan tangan, dia tampak ketakutan dengan bibir bergetar, tidak menyangka ada laki-laki yang begitu nekad ingin menyetubuhi dirinya. Aku kemudian berjongkok untuk menatap matanya, namun Ratna menolak tatapanku dengan memalingkan mukanya. Kulihat lubang di memeknya sudah mulai basah, aku ganti mengalihkan tatapanku ke situ.

“Kok sudah basah, Mbak... jangan-jangan sudah nggak sabar ya pengen disodok-sodok sama kontolku?” tanyaku sambil memamerkan kontolku yang masih menegang dahsyat di depan hidungnya, membuat Ratna makin terdiam saat memandanginya.

“Jangan cuma dilihat, Mbak... dipegang juga boleh!“ godaku sambil menggerakkannya naik-turun, membuat benda itu jadi makin kelihatan jantan dan menarik.

“Buka mulutmu. Mbak... emut lagi kontolku.” pintaku. ”Nanti aku oral memek Mbak sebagai balasannya,“ rayuku semakin menggila, namun Ratna hanya menutup mulutnya. Kusodorkan kontolku, dia malah menutup mata dan menggeleng-geleng. Kutekan kontolku ke bibirnya yang rapat, kutatap lagi wajahnya yang cantik, Ratna memejamkan matanya semakin erat, sama sekali tidak berani menatap penisku. Aku tersenyum, dasar wanita munafik! Kalau memang menolak, kenapa tidak berteriak dan kabur saja, pintu rumahnya kan tidak terkunci!

Kupandangi buah dadanya yang besar, yang menggantung sangat indah di depan dadanya. Putingnya yang bulat tampak segar, dengan warna merah muda yang begitu cerah. Keringat yang mulai mengalir di seluruh tubuhnya makin menambah daya tarik benda itu. Bagian memeknya yang penuh jembut juga terlihat begitu menggoda, dan makin lama kulihat semakin basah seiring rangsanganku yang membuatnya semakin terbuai oleh nafsu.

“Ayo emut, Mbak!“ kataku lagi.

Ratna memundurkan kepala dan membuka matanya, lalu berkata, “A-aku nggak sanggup, Mas... kontol mas gede banget... bibirku kelu!“ rintihnya dengan bibir gemetar.

“Kalau gitu, aku langsung coblos memek Mbak aja ya?” ajakku sambil mendorong pundaknya agar ia berbaring telentang di sofa.

“Jangaan!!” tolak Ratna gelagapan.

“Berarti emut kontolku dong!” kataku lagi.

“T-tidak!!“ sahutnya sekali lagi, matanya kembali terpejam.

Cukup sudah, aku kehilangan kesabaran! Tanpa berkata, cepat kumajukan selangkanganku dan kutekan kuat kontolku sampai menyentuh bibirnya. “Ayo buka, Mbak!!“ hardikku dengan nada tinggi sambil kupencet hidungnya hingga mau tak mau terpaksa Ratna membuka mulutnya.
.
”Hmm,” perlahan bibirnya terkuak, namun sangat kecil.

“Kurang lebar, Mbak!!“ perintahku lagi, yang disusul terbukanya mulut Ratna lebih lebar lagi. Aku langsung mendorong masuk kontolku dengan paksa, membuat Ratna membeliakkan mata karena saking besarnya.

“Mmpphmp!!“ lenguhnya, sama sekali tidak menyangka kalau kontolku akan melesak keras ke dalam mulutnya, dia berusaha menahan dengan menekan pinggangku agar benda itu tidak masuk lebih dalam lagi. Saat itu, sudah hampir separo batangku yang menancap.

“Ayo, Mbak... buka mulutmu… tinggal sedikit lagi! Buat apa mbak kubayar kalau bukan buat ini?!” bujukku tak sabar sambil menekan kontolku kuat-kuat hingga benda itu amblas lebih dalam ke mulutnya. ”Diperkosa itu tidak enak lho, Mbak... mending nikmati aja kontolku!!” kataku lagi membujuknya.

Perlahan Ratna mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati kepala kontolku, kurasakan sentuhan dan gesekan lidahnya yang begitu nikmat, membuat kontolku jadi seperti dielus-elus daging halus mulus. Sontak aku merasakan horny yang luar biasa, kontolku semakin mengacung tegak dan mengeras tajam. Perlahan kutarik dan kumajukan di mulut Ratna yang mungil, wanita itupun mengikuti gerakanku, kepalanya mulai bergerak pelan mengulum kontolku yang tertanam sesak di dalam mulutnya. Dia mulai mengemut dan mempermainkannya. Ugh... membuatku suka dan tergila-gila.

“Iya... terus, Mbak... enak... hisapan Mbak enak banget... arghh!!“ racauku sambil merogoh buah dadanya yang bergelantungan indah, perlahan kupijit dan kuremas-remas hingga membuat Ratna menggeliatkan tubuhnya. Sedikit merintih, dia terus mengulum kontolku.

”Sambil dikocok, Mbak! Aku pengin Mbak bermain dengan kontolku!!“ perintahku kemudian.

Tidak membantah, Ratna kemudian mengocok kontolku pelan-pelan. Tangannya yang lentik itu tampak tidak sanggup melingkari batangku. Sambil mengocok, kuminta dia untuk menjilati ujung dan kantung kemihnya juga. ”Yah, bagus... terus begitu, Mbak... ughh... enak banget!” rintihku suka. Kontolku yang sudah basah oleh air liur itu jadi terasa mudah dikocok olehnya.

“Kita enam sembilan, Mbak... siap yaa?“ kataku sambil mendorong tubuhnya agar tiduran kembali. Ratna pun menurut, dia menggeser duduknya lalu rebahan kembali di sofa.

“Aku suka memek Mbak yang penuh jembut ini, “ ujarku sambil naik ke kursi dan mengangkangi tubuhnya. ”Buka pahanya, Mbak... uuuh... sudah basah banget... Mbak sudah nggak tahan ya? Sabar deh… aku bikin memek Mbak lebih basah lagi!“ kataku sambil membungkuk dan langsung menjilati memeknya yang basah itu dengan penuh nafsu. Ratna mendesis dan menggelinjang tak karuan menerimanya, tangannya sampai menggapai-gapai meja yang ada di sampingnya. Sementara aku terus menyapu memek yang basah itu dengan lidahku, juga kujilati lubangnya yang sempit berkali-kali, serta kuhisap dan kucucup cairan yang keluar dari dalam sana dengan sangat rakus.

“Ooh... aahh... aaah... aduh... jangan keras-keras, Mas... geli... geli banget... aku nggak tahan... ughhh...” desis Ratna dengan kepala menggeleng-geleng, mulutnya terus menceracau sampai akhirnya kuturunkan selangkanganku tak lama kemudian. Tanpa kuminta, ia langsung melahap dan menghisap kontolku yang berada tepat di depan mulutnya.

“Hmm... Mbak sudah doyan kontol rupanya,“ godaku sambil kembali mempermainkan lubang memeknya, aku makin bersemangat menggarap tubuh perempuan cantik yang satu ini. Dengan rakus terus kujilati lubang memeknya, benda itu menjadi semakin basah dan memerah seiring aksi nakalku. Belum lagi pahanya yang montok, yang terus kuelus-elus dengan lembut, sambil jari-jariku meraba dan mengusap-usap bulatan bokongnya, lengkap sudah aku menjelajahi seluruh tubuhnya.

Tubuh kami juga sudah penuh oleh keringat. Sekarang, tidak cuma menjilat, aku juga mulai mempermainkan biji klirotisnya itu. Kucucup dan kusedot-sedot benda mungil itu hingga membuat Ratna makin cepat bermain dengan kontolku. Kami sudah sama-sama dibuai oleh nafsu.

“Sudah, Mbak!“ kataku saat sudah tak tahan, “Aku sudah pengin ngentotin memekmu.” ajakku sambil menahan mulutnya yang masih asyik mengulum penisku. Ratna pun menurut, dia memberikan penisku.

Aku pun memutar tubuh dan menindihnya, sekarang kami berbaring saling berhadap-hadapan. “Lebarkan pahanya, Mbak... wuih, pasti nikmat ngegenjot tubuh Mbak dari atas.“ pujiku tulus.

“Iya... genjot aja tubuhku sepuasmu.“ sahut Ratna, inilah kalimat pertama yang ia ucapkan dalam sepuluh menit terakhir.

Puas aku mendengar jawabanku, berarti dia sudah sepenuhnya bisa menerima kehadiranku. Kalau begini kan uang yang aku keluarkan jadi tidak sia-sia. Sambil menurunkan pinggul, kulumat bibirnya yang tipis. Ratna membalas pagutanku dan membimbing tanganku agar meremas-remas buah dadanya yang sebelah kiri. Dia sedikit menggeliat saat aku melakukannya, apalagi saat kudesakkan kontolku pada lubang memeknya yang basah, dia langsung merintih dan menjerit kecil.

“Aaaah... s-sakit, Mas!! Aaaa... sssh... pelan-pelan!” lenguhnya merasakan tusukan kontolku. “Tarik dulu! Ughhh...“ tambahnya kemudian. Tidak ingin membuatnya kesakitan, segera kutarik kontolku hingga ke ujung tapi tidak sampai lepas. Saat dia sudah agak tenang, baru kutekan lagi, dan kali ini dengan sekuat tenaga hingga membuat Ratna mendongak dan menjerit panjang.

”Auooughhhh.... Maass!!” teriaknya pilu. Segera kubungkam mulutnya dengan ciuman sambil kuatur rambutnya agar tidak menutupi kecantikan wajahnya. Kubiarkan penisku tetap tenggelam di lubang memeknya, tapi tidak kuapa-apakan, kutunggu hingga ia tenang dan santai. Sambil menunggu, daripada nganggur, aku bermain dengan gundukan payudaranya. Kuremas-remas benda bulat empuk itu sambil tak lupa kucium dan kujilati putingnya hingga membuat Ratna menjerit lagi karena kegelian.

Setelah dia agak tenang, baru kutarik dan kutekan kontolku. Kulakukan secara perlahan, tapi tak urung tetap membuat Ratna gemetar dan merintih tak karuan. Bahkan dia sampai membusungkan dadanya ke atas. Segera kuhisap semakin rakus sambil kugerakkan kontolku keluar masuk di lubang vaginanya semakin cepat. Rasanya luar biasa sesak, tapi sungguh sangat nikmat sekali. Keringat semakin membanjiri tubuh kami berdua, padahal hawa saat itu lumayan dingin. Berkali-kali aku terus turun naik di atas tubuh sintal Ratna, dengan tenaga besar kuhujamkan kontolku dalam-dalam agar amblas mentok ke dalam memeknya.

“Aaaaaaaahh...!!!!” lenguh Ratna dengan nafas ngos-ngosan itu, aku terus memberondongnya, sama sekali tidak memberinya jeda untuk bernafas. Kukejar bibirnya yang menganga tipis dan kulumat sekali lagi sambil pantatku terus naik turun menggenjot tubuh sintalnya.

“Aaah... Mass... a-aku... aku nggak kuat... aaah!!“ erang Ratna dengan tubuh kelojotan tak karuan, sementara genjotan demi genjotan terus aku lakukan. Susu besarnya yang tampak bergoyang indah segera kupegangi dan kuremas-remas lembut. Kami terus berpacu dalam gerakan yang saling berlawanan

“Uuh... memek Mbak enak banget... uuuh...” merasa nikmat, aku menggenjot semakin cepat, aku juga sudah merasa tak tahan. Ratna berusaha mengontrol agar kontolku tidak sampai muncrat di dalam, namun karena terbuai oleh serbuan, ia pun hilang akal dan akhirnya pasrah jika aku menggelontorkan spermaku menembus rahimnya.

Kurasakan memek sempit Ratna sangat kuat menjepit kontolku, matanya yang bulat tampak terpejam rapat menikmati apa yang sedang kulakukan, sementara tubuhnya yang sintal sampai tergoncang-goncang akibat begitu kerasnya tusukan penisku. Saat itulah, ia tiba-tiba menjerit keras sambil merangkul tubuhku. Rupanya Ratna sudah mencapai orgasme. Dadanya membusung tegak saat cairan cintanya menyembur keluar.

“Oooooooh...!!!” jeritnya kuat dengan tubuh menggelinjang.

Kutingkahi teriakannya dengan geraman kasar saat aku menyusul tak lama kemudian. ”Aaaaaaaah...!” erangku sambil kuhujamkan pinggulku dalam-dalam ke lorong memeknya dan kusemburkan isi kontolku disana.

Kami berdua sampai kelojotan bertindihan saat cairan kami bertemu dan bercampur menjadi satu. Ratna tampak ngos-ngosan dengan keringat yang membanjir di seluruh tubuh mulusnya, sementara aku juga lemas setelah menguras seluruh isi ’tabunganku’. Kurasakan cairanku begitu banyak hingga sebagian meleleh keluar dari sela sela memek Ratna. Wanita itu masih terdiam dengan dada naik turun menggiurkan dan mata setengah tertutup. Sejenak kami berpelukan, namun aku terkejut ketika tangannya tiba-tiba menepuk pundakku keras-keras.

“Kurang ajar... kenapa dikeluarin di dalam?“ sungut Ratna dengan wajah marah. ”Gimana kalo aku sampai hamil?” hardiknya.

”Itu resiko perkerjaan, Mbak, terima aja. Ayo, aku masih pengen lagi!” Kutarik tubuhnya dan kududukkan di depanku, dia tampak shock melihat kontolku yang penuh lendir.

“Jilati, Mbak... bersihkan spermaku... telan semuanya...“ pintaku sambil memegangi kepalanya.

Dengan tatapan kosong, diapun melakukannya. Begitulah, meski awalnya sedikit memaksa, akhirnya aku berhasil melampiaskan segala hasrat birahi ke tubuh perempuan cantik pindahan dari kota ini sepanjang sabtu-minggu. Oye! Mumpung suaminya lagi nggak ada. Beda sama istriku yang garang dan dominan di ranjang, Ratna ternyata begitu lembut dan empuk, tapi sangat sempit dan mencengkeram. Jos lah pokoknya. Yah maklum, orang kota gitu lho.

Setelah puas, senin pagi, aku pun kembali ke basecamp dengan sumringah.

"Gimana, puas? Kena bayar berapa?" tanya Mas Alim di pintu masuk.

"Puas banget, Mas. Saya kena enamratus ribu." sahutku.

"Hah! Cuma enamratus? Untuk bensinnya aja bisa abis segitu? Kok bisa dapet murah, rayuan kamu pasti maut!" kata Mas Alim.

"Bensin? Bensin apaan? Kan cuma modal dengkul aja, ama atasnya dikit, hehe... Ya kalo rayuan sih maut. Tadinya, dia nolak-nolak gitu deh, pura-pura jaim, tapi setelah aku paksa-paksa, akhirnya jos juga. Aku gasak terus dia dua hari ini."

”Gasak? Maksudnya?” tanya Mas Alim tak mengerti.

"Lho, bukannya Mas yang nyuruh? Bukannya Mas juga sering?" tanyaku baling, mulai bingung juga.

"Hah?!! Gila kamu!! Mbak Ratna kamu entotin?" teriak Mas Alim tak percaya.

Aku mengangguk, ”Emang salah ya?” tanyaku ragu.

"Ngawur kamu. Aku tuh bilang, kamu datangi dia buat booking mobilnya. Bukankah di kampung ini hanya dia yang punya mobil. Nah, dengan mobil itu, kamu bisa pulang ke rumah sepanjang week-end, bermesraan sama istri kamu, gitu. Bukannya Mbak Ratna-nya yang kamu gasak! Dasar ******!" jelas Mas Alim.

"Oh, jadi begitu, hehe... Walah! Pantesan kemarin Mbak Ratna awal-awal berontak terus, ternyata amatiran toh, bukan profesional. Gimana nih? Abis dulu Mas instruksinya nggak jelas sih." kilahku.

"Eh, kok aku yang disalahin?" Mas Alim pun ngacir.

Nasi udah menjadi bubur. Tapi tak apa, buburnya sangat enak sekali, aku suka dan tak menyesal telah memakannya. Bahkan minggu depan aku berniat untuk menggunakan ‘jasa’ Ratna lagi

Kakak Mantan Pacarku

Pada kesempatan kali ini, aku ingin menceritakan pengalaman menarik dan seksi yang lain antara aku dan Karen. Hubungan kami telah berlangsung selama hampir 1 tahun lama-nya. Sejak kejadian malam itu, kami berdua semakin sering melakukan hubungan badan. Paling tidak 3 sampai 4 kali dalam seminggu atau tidak sama sekali, terutama kalo aku atau dia sedang banyak kerjaan di kantor. Dan kami melakukan-nya hampir kapan saja. Tapi kebanyakan kami melakukan-nya di rumah (kebanyakan di sofa dan kamar tidur). Tapi kami pernah melakukan 2 kali di parkiran mobil di apartment kami. Yah, aku akui saja kalo melakukan hubungan seks di dalam mobil adalah paling tidak nyaman. Selain sempit, susah sekali untuk bergerak bebas. Tapi tantangan dan perasaan berdebar-debar takut kepergok orang lain itulah yang kami nikmati pula, membuat kehidupan seks kami makin berwarna.

Hubungan ini tentu saja tidak ada yang tau menahu, terutama pacar Karen waktu itu dan Lisa yang sekarang ini sudah berada di Indonesia. Sampai pada akhir-nya Karen memutuskan hubungan-nya dengan pacar-nya. Alasan yang Karen pakai untuk putus dengan pacar-nya adalah hilangnya perasaan cinta-nya terhadap dia. Aku sendiri pun tidak berani bertanya kepada Karen apa sekarang ini hanya akulah yang ada di dalam hati-nya.

Terus terang, aku juga tidak mengerti dengan perasaan-ku terhadap Karen waktu itu. Apakah aku suka padanya karena dia menarik hati-ku secara seksual atau lebih dari itu. Karen pun tidak pernah menanyakan kepadaku apakah aku sebenar-nya telah menaruh hati kepada diri-nya. Jadi perasaan-ku saat itu seakan-akan lambung, dan penuh dengan ketidakpastian serta kekhawatiran.

Banyak yang harus dipertimbangkan dalam hubungan ini. Aku tidak berani melaju 1 langkah lagi. Mengingat Karen adalah kakak bekas pacar-ku yang dulu, dan bagaimana nanti apabila orang tua kami berdua mengetahui hubungan ini. Apalagi aku sendiri tidak tau antara aku telah mencintai Karen sebagai pacar atau karena seks saja. Mungkin aku terlalu egois untuk memikirkan hal-hal yang seperti ini, karena aku tidak mempertimbangkan perasaan Karen.

Semua ini telah terjawab saat aku berada di Sydney untuk tugas di sana selama 50 hari dari awal bulan November 2006 sampai pertengahan December 2006. Perusahaan-ku mengirim 1 team (total 4 orang) termasuk aku ke kota Sydney untuk membantu team lain di sana mengembangkan system dari perusahaan ternama di Australia. Kantor pusat kami berada di Sydney, dan salah satu kantor cabang di mana aku bekerja tetap adalah di kota Melbourne. Paling tidak tiap 3 bulan sekali, kami harus berkunjung ke Sydney untuk briefing atau branch meeting. Dan itupun hanya untuk beberapa jam saja, jadi aku tidak perlu sampai harus bermalam di Sydney. Tapi kali ini berbeda, karena aku harus tinggal paling tidak selama 50 hari di Sydney.

Karen ternyata tidak menyambut gembira kabar ini. Tapi dia pun tidak mempunyai pilihan yang lain untuk menahan aku pergi, karena ini proyek yang tidak bisa diremehkan.

Aku berangkat hari Senin pagi bersama teman-teman kerja yang lain. Kami berkumpul di kantor cabang Melbourne, lalu menyewa taxi melaju ke Melbourne domestic airport. Sesampai di Sydney, kami disambut oleh utusan dari kantor pusat dan mengantar kami ke hotel. Hotel kami berada 1 block dari kantor pusat, dan berada di lokasi yang amat strategis. Akses mudah ke pertokoan dan restaurants, jadi urusan makan dan shopping tidak perlu kuatir. Semua akomodasi ditanggung oleh kantor pusat termasuk uang jajan pribadi.

Pada hari pertama di Sydney, malam hari-nya aku menelpon Karen menanyakan kabar-nya. Kami banyak berbincang-bincang sambil tertawa canda. Banyak kali Karen bertanya kapan aku pulang dari Sydney. Aku sendiri tidak tau kapan bisa selesai proyek ini, yang pasti 50 hari itu adalah perkiraan perusahaan kami. Tapi aku mengatakan pada Karen kalo aku akan bekerja keras agar proyek ini bisa selesai lebih cepat 2 atau 3 hari dari perkiraan.

Aku mengusulkan kepada Karen kalau aku bisa terbang ke Melbourne tiap Jumat malam dan kembali ke Sydney hari Senin pagi hari. Karena perjalanan Melbourne â€" Sydney dengan pesawat terbang hanya sekitar 1 jam saja. Tapi usulan ini ditolak Karen, karena tidak ingin membuat aku letih atau sakit. Juga kata Karen baik untuk kami berdua untuk saling membiasakan diri jauh dari masing-masing.

Minggu-minggu pertama, kedua, dan ketiga, aku bisa mengendalikan perasaan-ku dan karena sibuk-nya pekerjaan, aku bisa melupakan kerinduan-ku kepada Karen.

Sampai pada akhir-nya sebulan lama-nya, aku sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Karen. Aku masih ingat malam itu, hari Kamis malam di akhir bulan November 2006. Aku teramat sangat rindu terhadap Karen. Sampai akhir-nya aku menelpon dirinya dari kamar hotel-ku.
"Hallo Karen? Gimana kabar-nya? Sudah dinner belon?", sapa-ku hangat.
Terdengar balasan suara lembut dari sana.
"Hallo kak Ditto. Karen tadi beli take away saja, males masak. Karena masak buat Karen doang is such a waste", jawabnya.
"Karen abis ini mau ngapain?", tanya-ku sekali lagi.
"Hmmm…mungkin nonton TV atau browsing Internet. Apalagi dong kalo selain dua itu?", canda Karen sambil tertawa ringan.
"Emang kak Ditto pengen Karen ngapain? Kak Ditto ngga ada di sini, jadi Karen menganggur.", goda Karen.
"Anu…emang Karen lagi pengen?", tanya-ku lagi. Mengerti kan maksud dari pertanyaan-ku ini.
"Yeee… kak Ditto ge-er nih. Selama kak Ditto di sini Karen kan ngga usah masak, potong buah buat kak Ditto.", jawab Karen bercanda.
"Iya benar juga sih. Emang Karen menikmati hari-hari menganggur ini?", tanya-ku penasaran.
"Tentu saja tidak. Karen pengen kak Ditto di sini. Karen sepi banget di sini. Cepat pulang dong?! Masa ngga kangen ama Karen?", pinta-nya manja.
"Tentu saja kangen, tiap hari aku rindu ama Karen loh", jawab-ku.
"Emang kak Ditto rindu apa-nya dari Karen? Kak Ditto anggap Karen sebagai siapa?", tanya-nya sedikit serious.

Bak kesambar petir, aku tau suatu hari Karen pasti menanyakan hal ini. Dan aku terdiam beberapa saat, tidak mengerti harus menjawab apa. Suasana hening sesaat, sampai pada akhir-nya Karen bersuara.
"Sebenar-nya kak Ditto mengganggap Karen sebagai apa? Karen kadang-kadang tidak tau apa yang sedang kak Ditto pikirkan atau rasakan. Karen takut bertanya-tanya mengenai hal ini kepada kak Ditto. Tapi perlu kak Ditto mengerti bahwa bagi Karen, kak Ditto adalah orang paling penting di hati Karen.", sambung-nya.
"…", aku pun masih hening. Aku seperti mencaci maki diriku. Apa sebenar-nya mau-ku ini? Wanita lembut, baik hati, dan amat menyayangi-ku sedang memberi-ku sinyal, dan aku tidak tau harus bertindak bagaimana.

"Kak Ditto?!", tanya-nya lagi.
"Iya Karen. Aku masih di sini", jawab-ku.
"Apakah lebih baik kak Ditto tidak menelpon Karen sampai nanti kak Ditto kembali dari Sydney?", minta-nya serious.
"Lho, kok begitu?", tanya-ku heran.
"Karen ingin kak Ditto berpikir dengan perasaan kak Ditto, apakah sebenar-nya arti Karen bagi kak Ditto? Karena Karen ingin menjadi orang yang paling berarti buat kak Ditto melebihi orang lain. Apa pun alasan-nya.", dengan nada serius.
Aku masih belon bisa menjawab pertanyaan Karen. Karena aku sendiri pun masih belum menemukan jawaban-nya malam itu. Akhir-nya percakapan kami ditutup pada malam itu.

Setelah percakapan malam itu, aku berusaha untuk tidak menghubungi Karen selama sisa waktu di Sydney. Ingin gila rasa-nya, aku benar-benar rindu pada-nya. Tapi aku berusaha keras untuk tidak menghubungi-nya, agar aku juga bisa berpikir dengan leluasa.

Karen, Karen, Karen, dan Karen. Begitulah isi otak-ku saat itu. Tiap kali makan, tiap kali mandi, tiap kali shopping, selalu saja wajah Karen yang muncul di otak-ku. Aku tidak menyangka betapa penting-nya Karen bagiku.

Sampai pada malam terakhir di Sydney, perusahaan kami mentraktir kami semua makan malam sebagai ucapan terima kasih kepada team Melbourne yang telah membantu pengembangan proyek tersebut. Meskipun system itu belum 100% selesai, tapi kami yakin team dari kantor pusat bisa menyelesaikan-nya dengan baik. Karena kantor cabang kami yang di Melbourne juga telah memohon kantor pusat di Sydney untuk (istilah-nya) mengembalikan asset mereka (kami berempat) secepat mungkin.

Sekembali di hotel, aku mengirimkan sms kepada Karen. "Hallo Karen. Besok aku kembali ke Sydney. Aku pengen ngomong sesuatu buat Karen. Karen sabar yah. See u 2morrow".

Tak lama kemudian Karen meresponse sms-ku. "Hallo juga kak Ditto. Karen dah ga sabar lagi sampai kak Ditto pulang. Ati-ati di jalan ya".

Aku sms Karen lagi. "Let’s celebrate my arrival. Tolong booking restaurant di Sails on the Bay. Check di Internet untuk nomer telp mereka".

"No problem. Tapi kok pilih restaurant mahal sich?!", jawab-nya di sms.

"Kalo sekali-kali ngga apa-apa. Pengen romantic dinner ama Karen.", jawab-ku.

"Ok deh. Can’t wait to see you. :)", jawab-nya Karen.

Esok hari-nya, setelah berpisah di kantor pusat, kami berempat dengan segara meninggalkan Sydney menuju Sydney Airport. Selama perjalanan pulang, aku terus berpikir tentang kata-kata apa yang ingin aku ucapkan untuk Karen. Perlu diketahui, aku telah memutuskan untuk menjadikannya pacar bagiku. Tapi aku ingin menyusun kata-kata proklamasi yang baik dan benar. Maklum, I am not very good at this.

Sesampai di Melbourne, kami berempat kembali menyewa taxi lagi menuju kantor cabang di Melbourne. Maklum juga, kantor cabang Melbourne hanya memiliki 2 mobil kantor, dan selalu saja kedua mobil tersebut tidak pernah sepi. Hari itu adalah hari Jumat, jadi sesampai di kantor cabang Melbourne, kami banyak briefing project development kami di Sydney dengan head manager kami dengan suasana santai. Jam masih menunjukkan pukul 3 sore, masih ada 2.5 jam lagi sampai pulang. Tapi head manager kami memperbolehkan kami untuk pulang lebih awal.

Tawaran langka yang tidak bakalan kami lewatkan. Aku putuskan untuk jalan-jalan dulu di Melbourne city, sambil window shopping juga. Looking for something nice buat Karen. Akhir-nya aku berhenti di depan toko jewellery Tiffany & Co, dan aku melihat kalung yang sungguh indah. Tanpa berpikir panjang aku masuk toko tersebut dan membeli kalung itu. Aku yakin Karen akan semakin cantik mengenakan kalung tersebut.

Jam telah menunjukkan pukul 5, aku buruan saja pulang ke apartment-ku. Booking time buat dinner kami jam 7 malam. Karena bulan itu adalah musim panas, jam 7 malam masih terlihat terang di kota Melbourne.

Sesampai di apartment, semua tampak terlihat sedikit berbeda. Semua-nya serba rapi dan teratur, serta bersih. Aku jadi malu pada diri-ku sendiri, berarti aku orang yang paling berantakan di apartment ini. Sebulan lebih tanpa aku di sini, semua jadi rapi kembali. Ini pasti hasil kerja Karen selama aku di Sydney. Dia sangat rapi dan organised sekali kepribadian-nya.

Tanpa berpikir panjang lagi langsung menuju kamar mandi dan segera membasahi diriku. Selama di dalam kamar mandi, aku terus berpikir tentang apa yang akan aku katakan kepada Karen.
"Karen, I love you. Be my girlfriend", pikirku singkat. Jangan deh, terlalu singkat dan urakan lagi kesannya.
"Karen, I can't live without you.", pikirku lagi. Gile, terlalu singkat dan muluk lagi.
"Duh, gimana nih?!", tanyaku pada diri sendiri.
"Sudah lah, let it flow like wind. You can do it.", jawabku dengan setengah percaya diri.

Setelah selesai mandi, aku hanya keluar dari kamar mandi dengan bagian tubuh bawah ditutup oleh handuk. Maklum musim panas, aku malas sekali berpakaian lengkap sehabis mandi.

Aku melihat tas kerja Karen di atas sofa. Jadi aku tebak Karen sudah pulang dari Kantor.
"Karen, where are youuuu?", panggilku manja.
"Kak Dittoooo, mana oleh-oleh nyaaa?", jawabnya manja pula sambil menghampiriku dan memelukku erat.
"Ntar dulu, sewaktu dinner nanti.", jawabku sambil tersenyum.
"Sip sip. Karen mau mandi dulu. Kak Ditto siap-siap aja dulu. Setelah itu panasin mobil yah kalo sempat.", pinta Karen.
"Ok", jawabku singkat.

Setelah diriku siap, aku dengan segera mengantongi kalung yang aku beli dari Tiffany & Co yg terbungkus kotak kecil dengan hiasan yang mungil.
Aku duduk di sofa sambil menonton siaran TV yang kebetulan menayangkan film seri The Simpsons. Jam masih menunjukkan pukul 6, jadi I take my time relaxing di sofa.

Tak lama kemudian Karen keluar dari kamar mandi dan segera menuju kamarnya. Kudengar music dan suara bising hair dryer dari dalam kamar-nya. Bisa aku menebak kalo Karen sedang sibuk berdandan di dalam kamar-nya.

Setengah jam kemudian, Karen akhirnya keluar dari tempat persembunyian-nya. Tampak dia berdiri di samping sofa tempat aku yang sedang duduk dengan kaki menjulur dengan nikmatnya.
"Kak Ditto, Karen dah siap berangkat.", sapanya ringan.
"Oh my goodness...", pikirku dalam hati. Karen malam itu mengenakan gaun warna biru muda. Rambut panjangnya dibiarkan terlepas tanpa mengenakan jepitan atau ikatan apapun. Bau parfum yang dikenakan sungguh harum dan cocok dengan gaun yang dikenakannya pula. Ditambah dengan bros warna pink berbentuk hati makin membuatnya anggun malam itu. Apapun yang dikenakannya malam itu tampak simple atau sederhana, tapi apabila digabung semuanya di tubuh Karen, membuatnya luar biasa indah.
"You look beautiful.", kataku tanpa berpikir panjang.
"Thanks", jawab Karen sambil menunjuk dan mencium pipiku.
"We will be late. Yuk kita berangkat sekarang.", pinta Karen.

Kita sampai ke tempat tujuan pukul 7 lewat 10 menit. Restoran pilihanku memang tidak salah. Selain interior designnya yang menarik, lokasinya pun tidak kalah menarik. Lokasi restoran tersebut tepat di pinggir pantai. Kami telah memesan meja di dalam with ocean view. Bagian luar yang menghadap pantai dilapisi oleh dingin kaca yang besar, sehingga tamu restoran dapat menikmati pemandangan ocean sambil menyantap hidangan mereka.

Setelah memesan entree, main, and dessert kepada waitress yang melayani kami, kami pun ngobrol santai sambil menunggu pesanan kami keluar. Kebanyakan aku yang mendominasi percakapan, karena aku ingin bercerita tentang pengalaman kerjaku selama di Sydney. Karen pun hanya senyum-senyum saja mendengar ceritaku. Aku ngga tau apa Karen malam itu mendengarkan ceritaku atau hanya sekedar mendengar. Ah, tidak apalah, lagian tidak terlalu penting juga buat Karen.

Pinot Noir wine pilihanku and Cabernet Sauvignon wine pilihan Karen mewarnai suasana malam yang indah itu. Tidak ada yang perlu kita kuatirkan karena besok adalah hari Sabtu, dan malam ini adalah malam yang panjang untuk kita berdua.

Jam telah menunjukkan pukul 9 malam, dan warm sticky date pudding dessert-ku telah aku santap habis. Tampak Karen yang masih menikmati lemon cheese cake-nya. Kini saatnya aku harus mengatakannya kepada Karen apa yang ingin aku katakan padanya.

"Karen, thank you for coming the dinner tonight?", kataku sambil memulai percakapan baru.
"Ah Kak Ditto, jangan formal gitu dong. Please.", jawab Karen sambil tersenyum ramah.
"Karen. ... I have a confession to make. But before that I like to give you something", jawabku secepatnya sambil merogoh-rogoh kantung celanaku.
Kuletakkan kotak kalung itu dan kudorong pelan-pelan menuju pinggir piring dessert Karen.
"What is it?", tanya Karen dengan pipinya yang telah berubah menjadi kemerahan.
"Please, open it. I know you're gonna like it.", jawabku singkat.

Setelah kotak itu dibuka olehnya, tampak mukanya menjadi berseri-seri bercampur malu-malu. Tanpa berpikir panjang, Karen berdiri dari tempat duduknya dan dengan segera memelukku sambil mencium pipi kiriku.

"Thank you kak Ditto. It's cute. Karen suka banget", jawab Karen. Kubantu dirinya memasang kalung tersebut, dan benar juga menurutku, she looks even prettier dengan mengenakan kalung itu.

"Well, Karen. Masih ada lagi yang pengen aku kasih buat Karen. Tapi ini bukan barang.", kataku lagi.
Kali ini tampak wajah Karen sedikit berubah. Berubah menjadi bertanya-tanya dan wajah ingin tau.
"Karen, I hope you know that I like you a lot. Like di sini buat dalam arti sekedar suka. Tapi like di sini ... hmmm ... berarti lebih daripada suka.", kataku sambil grogi.
Karen masih diam, dan kali ini sorot matanya menatap mataku tajam.
"I know this is going to hard for both of us, but if we both work together - aku yakin we can make it. Mungkin ini saatnya kita harus mengakhiri hubungan ini ... dan ...", kataku sambil menggoda.
Tak karuan saja Karen terkejut dan shocked. Sorot matanya makin tajam menusuk.
Kini cepat-cepat aku lanjutkan kata-kataku, "... dan mari kita memulai hubungan kita yang baru, di mana itu lebih memiliki masa depan untuk kita berdua.".
"Karen, would you like to be my girlfriend and to love me as your boyfriend?", pintaku kepadanya.

Mendengar pertanyaan ini, sorot mata Karen menjadi sayu, dan Karen hanya bisa menunduk sambil menatap lemon cheese cake dessertnya yang tinggal separoh. Karen diam saja. Aku menjadi salah tingkah, dan tidak tau harus berbuat apa sekarang.

"Sorry kalo pertanyaan ini membuat Karen shocked, but I hope I can hear a Yes or No answer dari Karen.", jawabku.
"Kalo Karen butuh waktu untuk menjawabnya, aku ngga keberatan to give Karen sometime to think.", sambungku lagi.

Karen masih diam saja, tapi kali ini Karen melanjutkan lagi menyantap sisa lemon cheese cake-nya tanpa sepatah kata pun. Aku makin bingung dibuatnya.

Setelah habis menyantap dessert-nya, Karen meneguk sisa wine yang masih tersisa sedikit dan kembali menatap wajahku. Kami saling memandang, dan kemudian Karen tersenyum simpul.

"Hari ini Karen benar-benar dikasih dua hadiah yang indah dari kak Ditto. Apalagi hadiah yang kedua.", kata Karen.
"Jadi, it's a Yes or it's a No?", tanyaku.
Karen sedikit maju, dan wajahnya mendekat ke wajahku sambil tersenyum manja dan berkata, "It's a big YES".
Kami berdua saling tersenyum, dan kucium kedua tangannya.

Hari proklamasi-ku memang sangat traditional, tapi sangat berkesan bagi kami. Sejak malam itu, hubungan kami menjadi official (istilahnya).

Kami meninggalkan restoran pukul 10 malam, dan kami tidak langsung pulang ke rumah. Tapi kami menyempatkan diri jalan-jalan di pinggir pantai malam itu. Sambil bergandengan tangan, kami bercakap-cakap mengenai rencana hubungan baru kami ini dan bagaimana nanti kita memberitahukan orang tua kami tentang hubungan ini. Mengingat Karen adalah kakak kandung dari Lisa, mantan pacarku yang dulu beberapa taon yang lalu. Tidak jarang aku mencium bibir manisnya ketika kami berjalan sambil bergandengan tangan.

Jam menunjukkan hampir jam 12 tengah malam. We thought it's wise to go home. Selama perjalanan pulang dan sesampai di depan pintu masuk apartment kami pun, tangan Karen masih tidak ingin terlepas dari genggaman tanganku.

Setelah bersiap-siap untuk tidur, Karen tidak mau lagi tidur dengan kamar terpisah dan memutuskan untuk tidur di kamarku saja sejak malam itu.

Aku putar music jazz Diana Krall dengan lampu setengah redup. Di atas tempat tidur, kami saling berciuman mesra dan lembut. Lidah kami saling bertemu seakan-akan saling mengelus-elus satu sama lain.

Malam itu, Karen yang lebih dominan di atas ranjang.
"Kak Ditto, I will make you the happiest man tonight.", kata Karen menantang.
"I can't wait.", jawabku dengan semangat.

Karen mengambil posisi di atasku, dan duduk di atas selangkanganku sambil menunduk dan mencium bibirku. Tangan kanan-nya masuk ke dalam baju piyamaku sambil mengelus-elus lembut dadaku. Jantungku berdekup kencang, tanda bahwa aku telah mulai terangsang oleh rangsangan Karen. Kali ini aku membiarkan Karen memegang kendali percintaan malam itu.

Karen terus berusaha melepas semua piyama-ku dan ingin secepatnya membuatku terlanjang. Setelah membuatku terlanjang tanpa busana apapun yang menempel di tubuhku, Karen tersenyum manja. Dengan cepatnya Karen kembali menciumi bibirku, dan kali ini tangan kanan-nya mengelus-elus lembut batang penisku yang telah berdiri sejak tadi. Karen benar-benar mengerti how to make a guy like me dibuat seperti cacing kepanasan. Aku paling suka ketika Karen menjilat lembut puting susu-ku, karena itu adalah daerah paling sensitive buatku. Dan kali ini Karen tidak lupa untuk menjelajahi bagian ini.

"Karen, ahhh...", hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Karen seperti tidak menghiraukan apapun yang keluar dari mulutku. Karena memang bukan kata-kata yang perlu dihiraukan. Hanya suara erangan nikmat yang keluar dari mulutku. Semakin keras eranganku, semakin bersemangat Karen menjelajahi tubuhku. Kali ini bibir Karen telah sampai di batang penisku. Seakan-akan mengerti apa yang aku inginkan, tanpa dikomando mulut Karen mengulum abis batang penisku. Tangan kanan-nya mengelus-elus lembut kedua buah pelirku sambil tangan kirinya mengocok-kocok dan mulutnya mengulum batang penisku. Seketika saja batang penisku terasa amat basah oleh air liurnya, dan eranganku semakin menjadi-jadi. Karen makin mempercepat gerakan mulut dan tangan kirinya. Aku tidak ingat berapa lama Karen telah memberiku blowjob dan handjob malam itu. Yang pasti kuingat hanya satu ... 'gila, enak banget'.

"Ahhh ... Karen ... enak bangettt ... ahhh...", aku hanya bisa berucap begitu saja. Aku mencoba untuk berkonsentrasi agar aku tidak cepat datang karena blowjob dan handjob dahsyat Karen ini. Tapi kelihatannya, aku sudah tidak kuat lagi. Pengen keluar rasa-nya semua isi di dalam batang penisku. Ini baru pertama kali aku di blowjob oleh Karen yang aku sudah tidak mampu berkonsentrasi lagi menahan batang penisku agar dia tidak cepat datang.

"Karen, aku mau datang ... mau datang nihhhh ... stop stop ... pleaseee ...", aku benar-benar memohon padanya. Tapi seakan-akan tidak mendengar permintaanku, Karen tetap aja melanjutkan kulumannya kepada batang penisku. Kali ini lebih cepat lagi, seakan-akan dia tau kalo sebentar lagi pertahananku bakalan bobol.

Benar saja, tidak lama kemudian bobol juga pertahananku. Batang penisku tidak mampu lagi menahan, keluarlah semua air mani di dalamnya, dan menyembur desar di dalam mulut Karen.
"Akhhh ... akhhh ... aku dapettt nihhh... akhhh ...", aku berteriak kecil. Kuluman Karen berhenti menjadi sedotan yang kuat. Seakan-akan ingin menyedot semua air mani di dalam batang penisku. Karen tampak tidak jijik oleh semburan air maniku, bahkan tanpa ada rasa jijik untuk menelan semua-nya. Semua otot-otot sendiku dibikin lemas oleh Karen. Masturbasi pertama dari Karen yang berhasil membuatku bobol. Tidak heran bila Karen mengatakan bahwa malam itu akan membuatku the happiest man alive.

Setelah itu, tak henti-hentinya aku mengatakan padanya bahwa dia sungguh hebat melayaniku malam itu. Sampai akhir-nya aku ketiduran akibat kecapekan. Yang aku ingat sebelum ketiduran, Karen terus mengelus-elus lembut rambutku dan sesekali mencium-nya. Aku bisa merasakan betapa sayang-nya dia kepadaku.

Tidak tahu sudah berapa lama aku ketiduran, tiba-tiba aku bangun karena harus buang air kecil. Batang penisku masih terasa basah & lembab karena air liur Karen. Setelah membilas batang penisku, aku kembali ke kamarku. Matahari sudah menampakkan diri, tetapi jam masih menunjukkan pukul 6 pagi di hari Sabtu. Good thing we don't have to work on Saturday. Jadi aku kembali ke tempat tidurku lagi. Tampak Karen yang masih tertidur pulas di tempat tidurku sambil menutupi perutnya dengan selimut tipis dan mengenakan daster tidur yang tipis. Maklum meskipun musim panas, tapi karena sudah terbiasa memakai selimut, tidur tanpa selimut membuatnya merasa beda atau aneh.

Melihat kecantikan wajah Karen and keindahan serta kemulusan tubuhnya Karen, membuatku kembali bersemangat. Mengingat semalam aku dibuat tidak berkutik oleh Karen, membuatku ingin membuatnya tidak berkutik pagi ini. Aku juga tau betul favorite Karen, yaitu sex in the morning. Dulu-nya dia sering menggodaku karena setiap pagi tanpa ada rangsangan apapun, batang penisku bangun dan mengeras dengan sendiri. Aku bilang padanya bahwa itu sangatlah normal, dan setiap lelaki normal pasti mengalaminya. Tapi itu justru yang membuat Karen makin suka melakukan sex di pagi hari. Dia pernah mengatakan padaku bahwa di pagi hari (sewaktu baru bangun tidur), batang penisku bisa terasa lebih keras daripada di saat-saat yang lain. Aku tidak tau apa ini benar, atau hanya dipikiran dia saja. Tapi itu sama sekali tidak mengganggu pikiranku, karena selama Karen senang menikmati batang penisku, itu sudah lebih dari cukup buatku.

Kali ini aku yang memulai action-nya. Pertama-tama aku kecup kening-nya, dan kemudian mengelus-elus lembut rambut-nya yang hitam. Karen kemudian melihatku dengan kedua mata yang masih terkantuk-kantuk sambil tersenyum manis, dan akhir-nya memejamkan matanya kembali. Tapi aku masih belum ingin berhenti sampai di situ. Aku mencoba mengubah posisi tidur Karen menjadi terlentang dari posisi tidur sebelum-nya yang menyamping, dan berhasil. Aku tarik selimut tipis-nya, dan aku lempar ke samping tempat tidurku. Terlihat paha mulus dan putih Karen, membuatku menelan ludah. Aku mengambil posisi di sebelah kanan Karen dan berbaring menyampingi tubuh-nya yang sedang terlentang. Tangan kiriku menopang kepala dan leherku, sementara tangan kananku mengelus-elus rambut-nya. Karen tampak menikmati setiap sentuhan yang aku berikan padanya.

Kemudian tangan kananku turun menuju dada-nya yang masih tertutup kain daster tidur-nya. Karena kain daster itu tipis sekali, aku bisa merasakan tonjolan puting susu Karen dengan jelas di telapak tanganku. Aku mendekatkan muka-ku untuk berusaha mencium bibir manis-nya. Dengan masih setengah mengantuk, Karen membalas serangan ciumanku tapi tanpa tenaga alias pasrah. Diatas kain daster-nya, aku memainkan tangan kananku memaini puting susu-nya. Kadang-kadang aku cubit lembut, dan kadang-kadang aku elus-elus. Terdengar hela-an napas Karen yang berubah menjadi lebih panjang. Kali ini Karen mulai terangsang. Mengetahui hal itu, aku semakin bersemangat menjelajahi tubuh-nya. Tangan kiriku sekarang tidak lagi menopang kepala dan leherku, tetapi ikut berpetualang dengan tangan kananku. Kutarik lepas daster-nya ke bawah agar tidak membuat Karen merasa tidak nyaman karena harus berdiri dulu tubuh-nya untuk melepas daster-nya.

Karena Karen tidak mengenakan BH dan celena dalam, dalam sekali tarik, terlanjang-lah tubuh Karen tanpa sehelai benang apapun yang menempel di tubuh-nya. Karen masih berpura-pura tidur. Aku tau jelas dan pasti bahwa Karen sudah sejak tadi telah terbangun dan mengeluarkan hela-an napas terangsang-nya. Kudekatkan wajah-ku di puting susu-nya yang sebelah kanan, dan menjilatnya dengan lembut. Puting susu yang berwarna coklat muda dan bersih itu membuatku makin terangsang, dan ingin mengulum terus menerus. Secara bergantian puting susu-nya aku jilat, kulum, dan kadang kala aku sedot sedikit keras. Napas Karen kali ini makin memburu tidak karuan. Bunyi erangan-nya pun kadang kala sempat keluar dari mulut-nya. "Ahhh... kak Ditto ...", kalimat terputus-putus itulah yang sering terucap dari mulut Karen.

Setelah puas berkelana dia kedua puting susu Karen, kali ini aku menuju ke tempat yang paling penting dan tujuan paling akhir untuk foreplay ini sebelum menuju ke main menu. Bau khas memek Karen telah menjadi favorite-ku dalam bercinta dengan-nya. Aku mengakui bahwa bau memek Karen tidak membuatku enggan untuk menjilatnya. Dari semua wanita sebelum Lisa (termasuk Lisa pun) memiliki bau memek yang membuatku enggan untuk menjilati-nya. Terus terang bau-nya anyir dan tidak nyaman. Kebanyakan aku hanya memainkan tangan-ku untuk membuat mereka orgasme atau datang di waktu foreplay (makanan pembuka). Maka-nya mereka mengatakan bahwa aku memiliki magic touch di jari-jari tanganku yang mampu menundukkan mereka dan membuat mereka bak cacing kepanasan. Dengan Karen berbeda sekali, bau-nya pun tidak anyir, wangi pun tidak (karena tidak mungkin kalo sampai wangi, selain abis mandi), tapi memiliki magnet yang membuatku menyukainya.

Bulu pubis Karen halus dan tidak begitu lebat, sehingga memudahkan aku untuk menjilatinya serta memainkan memek-nya dengan lidahku. Seperti biasa-nya, seperti terkena setrum listrik tegangan tinggi, tubuh Karen mulai tersendak ketika lidahku berkelana di daerah clitoris-nya.

"Ahhh ... kak Ditto sayang ... enak bangettt ... ahhh", seru Karen makin menjadi-jadi. Napas-nya pun makin memburu kencang. Kadang-kadang dia menjambak rambut-ku.
"Kak Dittooo ... Karen hampir dapetttt ... ahhh", tambah Karen sekali lagi.

Kedua selangkangan Karen kubuka lebih lebar lagi, agar bibir vagina-nya lebih merekah lagi. Kali ini aku jilati bagian labia minora-nya dan berusaha untuk mencari dari G spot-nya. Hentakan tubuh Karen makin mengencang, dan napas-nya pun seperti seseorang yang telah berlari sejauh 10 kilometer. Kali ini memek-nya terasa sedikit asin, dan bisa dipastikan vagina Karen telah mengeluarkan cairan menandakan sebentar lagi the 'Big' one is coming very very close.

Mengetahui bahwa sebentar lagi Karen akan orgasme, aku mempercepat tarian lidahku di memek-nya.
"Kak Dittoo ... kak Dittooo ... Karen dah ngga kuuaattt lagi ... dah diujung nihhh ... pleaseeee kak Ditto", pinta Karen.
Tak lama kemudian, terdengar jeritan Karen mengisi seluruh kamar tidurku.
"Ahhhh ahhhh ahhhh ...", jerit Karen kencang, dan dengan segera dia menutup mulut-nya dengan tangan-nya sendiri agar suara pekikan-nya tidak sampai terdengar keras.

Aku tetap menjilati memek-nya, sampai Karen menyuruhku untuk berhenti. Setelah itu, tanpa perlu diperintah, aku melucuti semua pakaian tidur yang aku kenakan. Tanpa ada usaha dari Karen, batang penisku telah mengeras dan siap untuk berkelana di dalam memek Karen. Seperti biasa, sejak berhubungan sex dengan Karen, aku tidak perlu menggunakan condom, karena Karen pun tidak menyukaiku memakai condom. Demikianlah pula denganku.

Aku tidak mengalami kesulitan memasuki memek Karen, karena sudah teramat basah dari tadi. Kudorong pelan-pelan batang penisku, dan tanpa ada kesulitan, terbenamlah semua batang penisku di dalam memek-nya.

"Ahhh ... kak Ditto ... titit-nya keras bangettt ...", kata Karen.
Seakan-akan tidak mendengarkan Karen, aku memaju-mundurkan pinggulku perlahan-lahan, memberikan sensasi erotis ke dalam memek Karen. Kadang-kadang dorongan itu aku hentikan, dan memeluk Karen sambil mencium bibir-nya penuh dengan napsu. Lidah kami saling berperang di dalam bibir kami yang telah menyatu. Setelah puas berciuman, aku kembali mendorong maju dan mundur pinggulku agar batang penisku seakan-akan menusuk-nusuk lubang memek Karen.
"Ahhh ... Karen, memek Karen bener-bener hebat. Enak bangettt ... bikin geli banget. Suka ngga dengan titit ini?", kataku yang sudah ngaco.
"Sukaaa bangettt ... kak Ditto janji yah, sayangin Karen terus ... dan Karen akan selalu membuat kak Ditto puas jiwa dan raga ...", pinta Karen dengan nada yang terputus-putus.
"Janji ... janji akan sayang Karen terus ...", jawabku dengan napas yang terburu.

Semakin lama hentakan dan hujaman batang penisku semakin aku percepat. Pagi itu kita tidak bercinta dengan gaya yang bermacam-macam. Cukup gaya missionaries, tradional, man on top style. Seperti tidak pernah kering, memek Karen selalu saja basah. Memberi sensasi luar biasa di dalam bercinta ini. Akibat dari percepatan hujaman batang penisku, tubuh karena mengalami reaksi yang sunggu dahsyat. Tanpa ada peringatan apa-apa, tiba-tiba Karen memelukku sambil berteriak panjang.
"Ahhhhhh ... kak Ditto jahat ... Karen dapet lagiii ... ampun kak Ditto ... Karen minta ampunnn ...", kata Karen sambil memelukku erat-erat dengan tubuhnya yang mulai menegang.
Aku biarkan Karen memelukku, dan menghentikan goyangan pinggulku, agar memberikan udara buat Karen untuk mengatur napas-nya kembali.

Setelah beberapa menit kami berpelukan, aku berniat untuk menyelesaikan permainan sex ini, karena it is time for me to come.
"Karen, aku bentar lagi mau datang. Kalo bisa sama-sama yah datang-nya?", pinta-ku.
Karen hanya mengangguk menandakan bahwa dia setuju, dan kemudian mencium bibirku lagi.

Kembali aku mengambil posisi favorite-ku untuk ejakulasi, dan memulai memainkan pinggulku sekali lagi. Aku perlahan-lahan menggoyangkan pinggulku dengan irama yang pasti. Aku berusaha menhujamkan batang penisku dalam-dalam, agar memberikan sensasi seksual lagi kepada Karen. Karen pun tidak tinggal diam, dia tau betul bagaimana membuatku ejakulasi dengan cepat disaat kami telah bersenggama. Kedua telapak Karen menempel di dadaku, dan kedua jari telunjuknya mulai memainkan puting susuku. Daerah yang paling sensitive untukku.
"Ahhh ... Karen ... terus Karen ... aku bentar lagi mau datang.", kataku.
Karen pun mulai terlihat kembali bergairah. Aku pun mempercepat permainan ini. Aku tau kalo sebentar lagi batang penisku tidak akan sanggup lagi menahan bendungan air maniku yang sejak tadi meronta-ronta ingin keluar.

"Kak Ditto ... kok keras lagi titit-nya?", goda Karen dengan napas terburu-buru.
"Emang dari tadi ngga keras yah?!", tanyaku heran dengan tidak menghentikan goyangkan pinggulku.
"Ngga kok ... cuman kali ini Karen tau kak Ditto sebentar lagi mau datang ... datang barengan yukkk ...", pinta Karen sambil tersenyum.

Aku buat lebih cepat lagi goyangan pinggulku, dan batang penisku semakin meronta-ronta ingin memuntahkan air mani-nya. Aku hentakan dan menghujamkan batang penisku makin dalam, dan Karen pun sudah dari tadi mengigau tak karuan. Memek Karen semakin basah, dan gesekan batang penisku di dalam memek-nya seakan-akan mengeluarkan bunyi seperti pipi seseorang yang sedang ditampar. Aku sudah tidak tahan lagi, kali ini benar-benar harus keluar. Tubuhku mengejang hebat. Melihat perubahan tubuhku itu seperti memberikan aba-aba kepada Karen, kedua kaki Karen menjepit erat pinggulku seperti ingin agar semua batang penisku tertanam penuh ke dalam memek-nya.

"Ahhh ... Karen ... aku dah mau dapettt ... dah diujung ... Karennnn", kataku yang sudah kacau.
"Kak Ditto ... Karen juga mau datang lagiii ... I love you kak Ditto.", jawab Karen.
"Karennnn ... ahhhhhhhh ...", ingauan-ku sudah tak karuan.

Batang penisku mengeras sesaat, dan kemudian disusul dengan semburan air maniku di dalam liang vagina Karen. Kedua kaki Karen terus menekan pinggulku, seolah-olah haus dengan semburan hangat air maniku di dalam liang vagina-nya. Aku tidak menghitung berapa kali batang penisku memuncratkan semua isi air mani yang dari tadi dibendung-nya.
"Kak Ditto ... hangattt lohhh ...", kata si Karen.
"Enak ngga?", tanyaku.
"Always the best sayanggg ...", jawab si Karen manja.

Posisi kami masih berpelukan. Karen mulai mengendurkan kedua kaki-nya dari pinggulku. Batang penisku dari tertanam di dalam memek Karen. Membiarkan-nya perlahan-lahan melemas di dalam. Oh betapa senang-nya aku melakukan hubungan sex dengan Karen. Ide untuk menggunakan alat kontrasepsi selain condom adalah pilihan utama kami. Untung-nya Karen pun tidak menyukaiku memakai condom. Yang penting pencegahan pregnancy (kehamilan) tetap dijaga baik-baik.

"I love you, Karen. I will always love you. Sorry if I didn't say it in the first place", kataku.
"It's ok, kak Ditto. I love you too, and I know that I love you. Karena selama ini Karen selalu melakukan-nya karena Karen cinta ama kak Ditto. Meskipun Karen dulu-nya kadang-kadang sedih memikirkan apakah kak Ditto cinta atau hanya ingin 'ini' (sex) doang dari Karen.", kata Karen dengan nada sedikit sedih.
"I am sorry, Karen. Sekarang aku telah mengerti bahwa sejak dari dulu aku sudah sayang ama Karen. Sorry for making you worried and confused.", pintaku.
"Ngga perlu sorry, kak Ditto. Sekarang semua sudah jelas, jadi Karen tidak akan worried lagi. Apapun yang kak Ditto mau dari Karen, Karen pasti beri semua kepada kak Ditto.", jawab Karen.

Mendengar ucapan Karen, seakan-akan seperti udara sejuk bagiku. Akhir-nya kucium bibir manis-nya, dan perlahan-lahan kucabut batang penisku dari liang memek-nya. Cepat-cepat aku tutup dengan tissue memek-nya, agar air maniku tidak tumpah keluar membasi tempat tidur-ku. Karen pun cepat-cepat beranjak dari tempat tidur, dan dengan segera ke kamar mandi. Mencuci dan membersihkan memek-nya.

Jam telah menunjukkan jam 7 pagi lewat. Tapi badan kami sudah letih sekali. Telah 1 jam lebih kita berpetualang dalam cinta. Pagi itu kami memutuskan untuk kembali tidur, dan benar saja kami tertidur sampai jam 12 siang. Malam-nya kami mengulangi lagi petualangan cinta dan sex kami yang tidak kalah menarik-nya, dan begitulah hari-hari berikut-nya.

Disaat aku menulis cerita kedua ini, hubungan kami telah berjalan lebih dari 8 bulan, akan tetapi belum ada pihak dari keluarga kami yang mengetahui hubungan ini selain teman-teman dekat kami. Tapi aku merasa bahwa salah satu dari keluarga kami telah mengendus hubungan kita, hanya saja dia tidak berani mengatakan-nya langsung. Kami hanya tidak tau bagaimana memulai untuk mengatakan pada mereka. Memang ada pepatah yang mengatakan: "The first step is the most difficult task.". And we believe it's true. Kami telah berencana untuk menikah taon depan (apabila semua-nya lancar), pertengahan tahun 2008. Kalo dipikir secara logika, kami berdua bukan anak kecil lagi. Kita berdua sudah berumur lewat dari 25 tahun, dan by 2008, umur-ku dah berkepala 3. Jadi sudah harus memikirkan masa depan kami sendiri.

Bunga Disirami Air Mani Bapa Mertua

Namaku Bunga sekarang berumur 22 tahun. Menikah satu tahun dengan lelaki bernama Alvian. Kami masih belum mempunyai anak. Suamiku adalah seorang pedagang yang sering kali keluar kota. Seringkali aku ditinggal sendiri di rumah.

Bapa mertuaku beberapa kali mengunjungi rumahku. Biasanya dia datang saat Alvian ada di rumah, namun pada suatu petang Bapa mertuaku datang saat Alvian keluar kota. "Bapa mau nengok menantu aja deh Bunga" bilangnya padaku.

Habis makan, dia beristirahat di ruang utama rumahku. Dia hanya memakai sarung dengan atasan kaos saja. Sambil mengobrol tersingkap kain sarung Bapa mertuaku. Aku bisa melihat langsung burungnya sudah menegang, tapi anehnya dia cuek tidak cepat-cepat membetulkan sarungnya.

Langsung naik nafsu syahwatku, terlebih aku baru bersih datang bulan belum sempat ditiduri suamiku. Mendidih darahku saat itu melihat burung Bapa mertua.

Sepertinya burung Bapa mertuaku sudah tegang karena sedari tadi dia memperhatikan aku yang hanya berdaster tipis tanpa pakaian dalam lagi dibaliknya. Ukuran buah dadaku 34D sudah pasti menarik hati Bapa mertuaku. Pantas saja saat aku sajikan makanan, dia asyik melihat leher daster yang sedikit lebar.

Dengan dilanda nafsu, aku meninggalkan Bapa mertuaku masuk ke kamar tidur. Di desak nafsu berahi, aku bergegas naik ke atas kasur memuaskan denyutan kelentitku. Di atas kasur aku tarik dasterku ke atas dada lalu tidur telentang sambil mengangkangkan kaki selebarnya, menggosokan kelentitku.

Alangkah bahagianya aku kalau Alvian bisa memiliki burung sebesar milik ayahnya. Aku terus memejamkan mataku membayangkan khayalanku.

Tanpa ku sadari, pintu kamar tidurku bukan hanya tak diunci tapi juga terbuka lebar hingga Bapa mertuaku bisa langsung melihatku bermasturbasi tanpa tahu kehadirannya. Saat aku memacu birahi sendiri, dia bisa dengan jelas melihat perbuatanku.

15 menit aku memainkan kelentit sambil berkhayal, aku mendengar Bapa mertuaku memanggil namaku. Panggilannya memutus deraan birahiku. Dengan cepat ku toleh ke arah pintu kamar. Berdesir darahku melihat Bapa mertua yang berkulit legam berdiri dengan tangan kanannya memegang kontol yang keras mengacung.

Aku sadar laki-laki itu ayah kandung suamiku. Akupun terkejut, terdiam dengan posisi tangan masih mengusapi kelentit.

Secepat kilat dia bertindak mengambil kesempatan saat aku dilanda kebingungan. Bapa mertuaku menindihiku sambil melebarkan kedua kaiku yang terbuka. Mulut dan tangannya mencaplok kedua susuku yang terbuka dengan daster terangkat sebatas dada.

Tanganku berpindah dari selangkangan ke arah dada menghalangi tindakannya.

Tapi sesaat kemudian terasa memekku mulai dimasuki kepala kontol Bapa mertuaku. Tanganku bergerak menolak kontolnya dari selangkanganku, namun dipeganginya tanganku itu. Hingga terpaksa aku terbaring mengangkang tanpa melakukan perlawanan.

Bapa mertuaku langsung menggenjotkan kontolnya masuk dalam lubang memekku dengan liar menyadari posisiku terpojok. Melihat keganasannya, jelas bahwa dia sedari lama sudah mengincar menyodk kemaluan anak mantunya. Nafsu berahinya bagaikan menghukum tapak zuriat milik anaknya yang masuk masa subur.

Pikiranku berusaha mengenyahkan rasa nikmat dari sodokan kontol Bapa mertuaku namun nafsu membiusku untuk tetap bertahan dalam posisi demikian. Sodokan kontolnya terasa sampai bagian bawah perutku. Sensasi ini sebenarnya sudah sejak lama kurindukan, aku selalu ingin bagian terdalam rahimku digerus batang kemaluan lelaki.

Semakin lama ditindihi, aku semakin pasrah luar dalam. Seluruh jiwaku menjustifikasi besarnya dosa berzina dengan sensasi nikmat yang luar biasa nikmatnya. Tanpa sungkan dari mulutku mengalun erangan rintihan nafsu. Pengakuan tentang keperkasaan kontol Bapa mertuaku senantiasa diproklamirkan mulutku tanpa dapat terkendali.

Hitungan dosa dan penyesalan seolah olah dilenyapkan dengan sensasi nikmat dari arah selangkanganku. Bapa mertuaku sedari tadi membajak telaga buntingku tanpa lelah. Kesuburan ladang zuriatku digemburinya dengan sebaik mungkin.

Kini jelas bahwa Alvian sendiri tidak mampu menyamai keahlian bapaknya dalam mengolah tubuhku. Barangkali itulah sebabnya selama setahun menikah dia masih belum menghamiliku. Setelah cukup rata membajak ladang zuriat dalam memekku, akhirnya tiba saatnya Bapa mertuaku menebarkan benih zuriatnya dalam perutku.

Terbelalak bola mataku dilanda kenikmatan setiap semburan dari ujung kepala kontolnya. Panasnya air mani Bapa mertuaku disambut ledakan syahwat berahiku sendiri. Menggelepar seluruh badanku menerima benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai dalam rahimku.

Habis itu kami berdua sama-sama tergolek keletihan setelah mengayuh biduk kenikmatan bersama.

Bertelanjang bulat kami berdua tidur berpelukan sampai pagi.

Siang harinya kembali Bapa mertuaku menyemai benih zuriat yang mampu membuncitkan perutku. Kali ini entotannya berlangsung lebih lama dibandingkan entotannya semalam. Malahan cairan benihnya keluar lebih banyak lagi mengisikan rahimku. Hampir semenit rahimku terasa menadahi cairan perahan nafsu syahwatinya. Saat itulah telepon rumah berdering.

Aku tahu itu adalah panggilan dari suamiku. Namun rasa nikmat yang kurasakan dalam rahimku mendesak aku terus memerah sisa-sisa air benih Bapa mertuaku.

Setelah meyakini kontolnya tidak lagi mengeluarkan muatannya, barulah aku berusaha meraih telepon. Dengan bertelanjang bulat, aku bergegas ke ruang tamu. Itupun setelah semenit lamanya berdering. Bapa mertuaku ikut mengekori di belakang dengan juga tanpa sehelai benang.

Aku berdiri berbincang dengan suamiku lewat telepon, sementara ketika itu juga air mani Bapa mertuaku membasahi pahaku.

Gumpalan mani Bapa mertuaku yang terkumpul di pangkal pahaku lebih kentara. Sisa-sisa kehangatannya masih terasa. Baunya pun cukup kuat hingga aku yang sedang berdiripun bisa menghirupnya.

Suamiku memberi tahu bahwa dia akan terus berada di Makassar dan tetap tinggal disana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku bukan main lebar senyuman di bibirnya saat mendengar kabar tersebut. Akupun jadi salah tingkah karena selama masa-masa itu aku akan ditiduri oleh lelaki tua yang hitam legam dan mulai berkeriput.

Memang selama sebulan setengah itu, Bapa mertuaku telah memuaskan aku dengan secukup-cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kekuasaannya selama itu. Dia sangat marah saat aku minta izin ke klinik untuk mencegah kehamilan.

Mau tak mau aku pasrah membiarkan keinginan Bapa mertuaku untuk menanggung bunting melalui perzinaan kami. Semenjak itu, aku tidak diperbolehkan Bapa mertuaku keluar rumah.

Over proteksinya memang tepat, jika berpeluang aku selalu ingin ke klinik mencegah terjadi kehamilan hasil benihnya.

Untuk memastikan keinginan ku tak terlaksana, Bapa mertuaku merampas semua pakaianku dan menyimpannya di tempat yang terkunci rapat. Termasuk handuk, selendang, sarung, dan stocking. Makanya aku tidak mendapat akses pada pakaian apapun. Seharian penuh aku bertelanjang bulat.

Setiap kali dia melihat tubuh mudaku bertelanjang, kontol tuanya segera menegang keras. Memang rambut jembutku tak sempat kering selalu basah dibanjuri cairan calon anak dalam rahimku. Meskipun aku tidak rela menanggung akibatnya, akhirnya aku ketagihan ledakan nikmat yang maha hebat itu.

Setelah genap sebulan berlalu, Bapa mertuaku tersenyum bahagia sambil mengusapi perutku. Beberapa bulan kemudian aku mulai sering mula dan muntah muntah. Tak lama perutku terlihat semakin membuncit. Anak yang berkembang dalam perutku adalah bukti hasil perzinaan yang sangat jelas. Dari waktu ke waktu, suamiku kerja di luar kota, pasti Bapa mertuakulah yang menemaniku tidur. Semakin membuncit perutku, semakin bernafsu ia pada tubuhku. Ternyata dia adalah tipe lelaki yang menuykai wanita bunting.

Memang saat itu aku lebih intense dientotinya. Selangkanganku sampai pegal dan memerah dibuatnya. Namun semakin buas Bapa mertuaku mengentoti aku semakin menggila nafsu birahiku sendiri.

Disaat dia entoti aku dengan genjotan yang ganas, sempat dia berjanji untuk memastikan aku bunting lagi setelah melahirkan si jabang bayi nanti. Aku sendiri bagaikan kerbau yang dicucuk hidung saja, hanya menganggukan kepala tanda menyetujui keinginan si Bandot tua.

Setelah lama terbiasa mendapatkan persetubuhan yang begitu hebat dari Bapa mertuaku, tentunya aku selalu gagal puas dengan aksi suamiku sendiri. Disaat Alvian menggenjoti memekku, dalam bayanganku terlintas betapa perkasa ayahnya menyodoki liang rahimku lalu menyemai air maninya panas, kental dan banyak.

Memperkosa Santri Berpinggul Montok

Ini cerita sewaktu Toni masih kuliah di Jogja dan tinggal di belakang sebuah pondok pesantren putri.
Tubuh Safira ternungging di ranjang. Ia menangis tersedu-sedu. Lekuk pantatnya yang bulat montok tampak tercetak jelas beserta garis celana dalamnya di permukaan kain jubahnya yang tertarik kencang karena posisi menunggingnya itu. Bahkan karena tipisnya kain jubahnya, Toni bisa melihat dengan cukup jelas warna celana dalamnya yang terbayang. Warna merah muda. Bajingan itu meneguk air ludah menyaksikan keindahan pantat cewek asal Jepara itu.

Ampuuun Maasss.. Jangan perkosa saya Huuh huuuuhhuuu..! ratap Safira memohon-mohon dengan wajah basah bersimbah air mata. Tapi tangisan dan ratapannya hanya semakin menambah nafsu birahi Toni.

Hehehe. Aku tidak akan memperkosamu, Manis. Cuma ingin tahu gimana rasanya memek perawan seorang santri kayak Safira, kata Toni sambil menyingkap jubah panjang birunya ke atas pinggulnya. Siswi kelas 2 madrasah Aliyah itu terpekik dan berusaha menutupi auratnya sebisa mungkin tapi sia-sia. Kini terpampanglah pantat putih montoknya yang terbungkus celana dalam pink yang tipis.
Ampuuun Masss, jangann lakukan ini padakuuuu, Mas Kasihan Maasss ia hanya bisa menangis. Tapi Toni masih bisa menahan nafsu. Dia tak mau terburu-buru menikmati hidangan lezat yang terhidang di depan manya itu. Toni ingin melakukan blowjob pada tubuh Safira dulu. Kedua tangannya meremas-remas kedua bongkahan bulat pantat santri montok itu.

Jari-jarinya menelusuri paha Safira yang putih mulus mengkilap, sampai akhirnya jari-jari itu menyentuh permukaan cdnya yang membukit. Gadis itu sedikit histeris ketika memek mungilnya yang tembam itu tersentuh oleh jemari lelaki. Toni menggosok-gosok dan meremas dengan gemas memek itu
Arrrgggghhhhkkkhh!!!! Oooukkkhhhh.Massss! Arrgghhttt.. henttikaaaan! Henttikkann Masss! Toloooong hentikaaan Masss Jangaaan Aaarrrggghhh.! Suaranya bergetar, dan tubuh menggeliat-geliat liar. Tak lama kemudian Toni merasakan celana dalam gadis berjilbab lebar itu mulai basah oleh cairan memeknya yang keluar. Itu adalah tanda santri juara MTQ tersebut mulai terangsang oleh blowjob pada memeknya.

Sudaaah, sudaaah Masss Aaaakkhhhhh Safiraa tidaaak mauuu Safira memohon-mohon dengan air mata bercucuran deras di antara rasa nikmat yang melanda kemaluannya.
Tempik gadis berjilbab itu seperti kue apem, mungil tapi tembam membukit dengan lekuk yang masih berbentuk segaris. Begitu bersih dan mulus dengan bulu-bulu halus habis dicukur. Safira memang selalu rajin dan telaten merawat auratnya yang paling berharga itu sehingga tak heran jika Toni merasakan memek itu begitu wangi karena rajin dibersihkan dengan sirih.

Safira menangis tersedu-sedu sangat malu. Karena itulah pertama kali vaginanya dilihat oleh seorang lelaki. Jangankan vagina, betisnya pun tak pernah dilihat orang karena selalu tertutup rapat oleh jubah panjang. Kini Safira merasa begitu terhina, habis sudah dirinya. Habislah sudah kehormatannya sebagai seorang santri santun nan sholehah. Memeknya bukan hanya telah dilihat, tetapi juga sedang digarap oleh orang. Dicicipi, dinikmati, direngut kenikmatan surgawinya.

Ia berusaha menghindar ketika lidah basah Toni menjilati alur pantat dan memeknya. Lidah itu mengkritik lubang anusnya yang mungil keriput, membuat nafas Safira tersengal-sengal. Tapi lidah itu begitu liar, mengulas dan menusuk-nusuk. Dengan tangan Toni melebarkan celah pantat indah Safira, agar lidahnya semakin leluasa menikmati lubang berak gadis itu.

Ooohh, jangaaan Safira tersedak ketika lidah Toni menyelinap ke dalam lubang anusnya. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Toni terus menjilat bahkan kemudian menghisap-hisap lubang pembuangan Safira. Seolah-olah lubang berak gadis berjilbab itu makanan yang sangat lezat. Memang begitulah yang dirasakan Toni, lubang anus gadis itu baginya memang sungguh lezat dan gurih. Mengingat itulah pertama kalinya ia merasakan lubang dubur seorang gadis berjilbab. Santri lagi. Lubang anus Safira memang berbeda dengan lubang anus gadis-gadis lain yang pernah ia cicipi, baik aroma maupun rasanya. Rasanya manis-manis asem, sedangkan aroma yang dikeluarkannya sedikit legit dan lebih harum.

Puas dengan lubang dubur, kini lidah Toni menjalar ke bawah, ke alur memek Safira yang sudah terkuak basah. Semakin lama memek itu semakin basah, tak henti-hentinya mengeluarkan cairan legit nan sedap. Tergetar-getar tubuh Safira diperlakukan sedemikian rupa. Scruppp scrupppppppp terdengar bunyi tembik mungil Safira disedot dan terdengar pekik lolong tangisan Safira meminta ampun dan belas kasihan
.
Seluruh tubuhnya terasa mengejang, Safira berusaha bertahan tapi jebol. Rasanya seluruh cairan tubuhnya berkumpul di vaginanya. Tubuhnya mengejang kaku dan akhirnya kenikmatan surga dunia itu meledak dashyat. Dari dalam liang tempik, cairan bening kekuning-kuningan menyembur keluar dengan deras. Begitu banyak seolah tak mengalir tak habis-habisnya.
Sluuurrppp! Sluuurrrpp.. sluuuppp! Toni menghirup seluruh cairan orgasme Safira yang melekitkan keluar dengan amat rakus. Baru kali ini ia mencicipi cairan vagina perempuan yang begitu harum, lezat dan gurih. Ah, ternyata rasa cairan orgasme gadis berjilbab memang berbeda, simpulnya penuh kepuasan.

Ooohhh Masss jahaaat Huuuuhh huuuhhh..! tangis Safira terisak-isak setelah mengeluarkan orgasme pertamanya yang begitu dashyat hingga seluruh persendian tubuhnya lemas. Memek mungil namun tembam gadis itu tampak kemerah-merahan.
Gimana rasanya, Sayang? Enak kan? bisik Toni sambil menciumi pipi mulusnya yang basah oleh air mata.

Kau bajingan! jerit Safira dengan mata merah.
Hahaha. Aku memang bajingan, tapi aku barusan telah memberimu kenikmatan tawa Toni penuh kemenangan,Tapi itu belum apa-apa.. Aku akan membuatmu merasakan yang lebih nikmat lagi, memberimu pengalaman yang tak terlupakan..
Kini tubuh molek menggiurkan itu ditelentangkan di atas ranjang. Safira berusaha mempertahankan diri dengan mengatupkan kedua pahanya rapat-rapat dan menyilangkan kedua tangannya menutup buah dadanya yang kencang. Tapi apa dayanya menghadapi seorang lelaki yang sudah diamuk nafsu birahi. Toni merentangkan tangannya ke samping dengan kasar dan meremas sebelah buah dadanya. Safira merintih-rintih.

Dengan buas mulut Toni kemudian mengulum dan menghisap kedua puting susunya yang meruncing tegak dan masih berwarna pink.
Ooh, Masss suudaahh sudaaah MaassAarrrrggghh..!
Safira hanya bisa memohon-mohon belas kasihan dengan suara serak di antara isak tangisnya yang mengiba ketika Toni berusaha mengangkangkan kedua paha mulusnya lebar-lebar agar selangkangannya terbuka. Tapi lelaki itu sudah menempelkan ujung batang penisnya ke bibir vaginanya yang basah.

Ampuun Masss Huuuhhh jangaaaanSafira gak mau dikenthuuu, Masss.. Huuhuuuu! Safiraa gaaak mauuu!!! tangisnya tersedu-sedu ketika kedua pahanya yang terkangkang lebar membuat lipatan memeknya terkuak, Jangaaaan jangaaan.. Ooh, jangaan!
Aaaaaaarrrrggggkkhhhhhhhhh Jangaan Maasssssssss!!! jerit Safira histeris ketika merasakan sesuatu benda tumpul yang hangat perlahan menyeruak masuk ke bibir vaginanya.
Liang memek gadis itu berkedut-kedut menjepit erat batang penis Toni yang besar nan panjang, seperti menyedot-nyedot. Belum pernah rasanya ia mendapatkan liang memek senikmat ini.

Aaarrkkhhh! Aaaarrkkhhh teriak Safira melengking setiap kali Toni menghentakkan pinggulnya menghujamkan batang kontol sedalam-dalam ke dalam liang tempiknya yang sempit. Namun setelah beberapa lama Oohhhh kentthuuu! Oohh kentthuuu! Aaarrrkkhhhh!! erang Safira dengan suara yang tiba-tiba berubah sangat manja. Kedua tangannya yang halus mencengkram pundak Toni, sementara kedua pahanya yang mulus menjepit kuat pinggang pemerkosanya. Wajahnya yang berjilbab lebar terdongak ke atas dengan kedua mata indahnya yang tampak merem-melek, sementara dari mulutnya yang mungil basah terdengar desisan, rintihan, desahan, erangan nikmat tiada henti.
Oooohhhh Sudaaahh Suddaaaah. Ohhhh, eenaaakk, oohh enaaakk Massss Ampuuuunn ohh ampun gadis ABG berjilbab itu mengerang-erang hebat merasakan nikmatnya sensasi diperkosa orang. Setiap hujaman kontol Toni ke liang memeknya, disambut gadis berjilbab yang santun dan sholehah itu dengan hentakan pinggul indahnya ke atas.

Sambil menangis, Safira naik ke atas tubuhku. Tubuhnya yang putih montok tampak begitu indah oleh keringat yang mengkilap. Pelan-pelan santri alim itu berjongkok di batang kontolku yang sudah mengacung tegang. Ia mendesis ketika ujung kontolku yang bulat menyentuk permukaan vaginanya yang basah kuyup. Dengan air mata bercucuran deras, ia lalu membuka kedua paha mulusnya lebar-lebar hingga selangkangannya terkangkang memamerkan memek indahnya yang telah kuperawani. Jari-jemarinya yang lembut gemetar ketika meraih kontolku, mengenggamnya lalu menuntunnya ke lubang vaginanya yang sudah terkuak merah basah.

Perlahan tapi pasti batang kejantananku itu ditempelkannya tepat-tepat di bibir lubang memeknya yang nikmat tersebut lalu ditekannya ke dalam. Bersamaan dengan itu ia menurunkan pantatnya semok Hingga: Bleesss bleeesss!! Batang kontolku langsung terbenam ke dalam liang senggama gadis berjilbab itu sampai setengah.
Oooh, Tuhan nikmatnya! Liang basah yang baru pecah perawan itu terasa sempit sekali. Wajah cantik berjilbab putih yang basah oleh air mata itu tampak mengernyit menahan sakit. Kedua tangan Toni mencengkram pinggulnya erat-erat, lalu menghentakkan kontol ke atas.
Uugh! keluhnya tertahan ketika seluruh batang kejantanan Toni melesat masuk ke dalam liang senggamanya. Air mata kembali meleleh di sudut matanya. Indah sekali melihat wajah cantik dan manis yang masih mengenakan kerudung itu begitu mengibakan. Seumur hidup tak pernah Toni bayangkan pemandangan seindah ini, di mana seorang gadis, seorang santri alim dan santun yang begitu cantik dan manis telanjang bulat dengan tubuh molek berkilau oleh keringat dan jilbab lebar masih terpasang di kepala duduk di atas tubuhnya dengan kontol besar nan panjangnya tertancap di liang vaginasi gadis.

Ooohhhh ooohhhharrrrkkhhhh mauuu nyamppeeee Firaaaaa mauuuu nyamppeeeee, Maasss!!! Aaaaaaaaarrrrrkkhhhhhh!!!! gadis berjilbab itu menggerakkan pinggul moleknya sejadi-jadinya, menggoyangkan pantat bulatnya semakin cepat dan menghempaskan pinggulnya sekuat-kuatnya. Sehingga batang kontol Toni bak sepotong kayu menghujam-hujam liang senggamanya dengan keras dan deras.

Tak perlu lama Sepasang mata gadis dengan jilbab putih yang masih terpasang rapi di kepalanya itu mendelik ke atas. Wajahnya merah padam, dan mulutnya ternganga lebar. Indah sekali menyaksikan ekspresi wajahnya yang berjilbab itu merah padam menahan kenikmatan tak terlukiskan di puncak senggama.

Aaaaarrrkkkkhhhh keluaaarrrr.! Akuuuuuuu keeeluuuuuuaaaaarrrrrr. Arrrggghkkkhh nikmmaaaattttt.!!! Raungnya histeris dan menggerakan pinggul menjadi-jadi. Toni merasakan batang kontolnya laksana dimasukkan dalam mesin penggiring. Dan seeeerrrr seeeerrrseeerrr cairan vagina Safira muncrat deras membasahi batang kontolnya. Terasa hangat dan lengket.

Hampir magrib persetubuhan nikmat itu baru berakhir. Toni membantu gadis itu memakai kembali bra dan celana dalam serta jubah panjangnya. Agak terkangkang-kangkang Safira berjalan pulang ke asramanya. Kegadisannya hilang sudah, hatinya hancur berkeping-keping tapi harus diakui juga kalau ia telah mendapatkan kenikmatan yang luarbiasa selama diperkosa tiga jam lebih oleh pemuda begundal itu.

Mbak Novi tetanggaku

Namaku Har waktu aku baru menikah dengan isteriku aku tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil dengan kondisi rumah yang sangat sederhana. Kamar mandi kontrakanku bersebalahan dengan kamar mandi tetangga belakang rumahku. Bahkan pintu belakang rumah kami bisa menuju rumah tetanggaku karena pintu belakangnya berhadap-hadapan yang langsung menuju kamar mandi.

Ketika itu aku belum begitu kenal dengan tetanggaku itu tapi aku sudah mendengar dari isteriku bahwa tetanggaku isterinya cantik dan putih walaupun badannya agak besar sedikit. Aku jadi penasaran ingin tahu seberapa cantik tetanggaku itu. Pada suatu hari kamipun bertemu dan berkenalan dengan suami dan isteri tetanggaku mereka bernama Mas Yanto dan Mbak Novi. Mbak Novi masih muda sekali bahkan lebih muda dari aku beberapa tahun. Kamipun menjadi akrab. Mas Yanto memiliki usaha sendiri di bidang accu mobil dan motor di dekat rumah mertuanya yang cukup jauh dari tempat tinggal kami. Mas Yanto selalu berangkat pagi dan pulang maghrib. Karena sudah terlalu akrab aku dan isteriku sering nonton TV di rumah mereka, maklumlah kami masih baru menikah jadi belum punya barang apa-apa hanya lemari plastik, ranjang dan peralatan dapur bahkan kami masih sama-sama kuliah.

Karena saking akrabnya aku sudah tidak sungkan lagi untuk masuk ke rumah mereka. Pada suatu siang, ketika isteriku sedang pergi kuliah dan aku sendirian di rumah aku bertandang ke rumah tetanggaku untuk nonton TV. Kebetulan di rumahnya hanya ada Mbak Novi dan anaknya yang baru berumur 2 tahun. Sewaktu nonton TV kami mengomentari tentang film yang kebetulan tentang percintaan. Semakin asyik mengobrol isteri tetanggaku menanyakan tentang bagaimana hubungan sex.. tadinya aku kaget sewaktu dia bicara tentang sex, lalu aku beranikan diri untuk menanyakan bagaimana hubungan sex mereka.

Mbak Novi bilang bahwa dia belum pernah merasakan enaknya hubungan sex karena suaminya tidak pernah melakukan pemanasan. Lalu aku berlagak banyak pengalaman memberikan petunjuk dia senang sekali mendengarnya. Ketika itu Mbak Novi sedang menyusui anaknya lalu aku goda dia dengan gurauan yang berbau sex dan aku goda juga anaknya dengan memegang payudara Mbak Novi untuk melepaskan pentilnya dari mulut anaknya seolah-olah aku melarangnya menyusu lagi karena memang anaknya sudah terlalu besar untuk menyusui. Ternyata Mbak Novi diam saja, setelah itu dia menyuruh anaknya main keluar. Setelah anaknya pergi aku beranikan diri untuk mendekatinya dan memeluknya, tanpa berfikir panjang aku langsung mengecup bibirnya dan kami berciuman, ternyata Mbak Novi membalas ciumanku dengan erangannya yang merangsang.

Lama kami saling berpagut ciuman hingga Mbak Novi mengerang seperti keenakan kemudian aku mainkan payudaranya yang besar dan aku mainkan pentilnya dengan jari-jemariku. Sebelumnya dia sudah bilang bahwa vaginanya sudah basah dari sewaktu kami ngobrol tentang sex. Kemudian setelah puas kami berciuman aku bimbing Mbak Novi untuk tiduran dan aku beralih posisi di atas badannya. Kamipun berciuman lagi sambila aku tekan tonjolan penisku yang sudah menegang di balik celanaku. Aku gesek-gesekkan penisku di vaginanya dengan masih memakai pakaian lengkap. Tentu saja Mbak Novi semakin liar merasakan rangsangan yang aku timbulkan di daerah kemaluannya. Rasanya aku sudah tidak dapat menahan penisku lagi yang sudah begitu menegang dan ingin rasanya aku masukkan ke dalam lubang vaginanya.

Tiba-tiba aku mendengar suara ketuk pintu, kemudian aku hentikan ciumanku dan kami saling menatap dengan penuh kesal dan sedikit marah karena mengganggu kami yang sedang nikmatnya memadu kasih. Aku tidak dapat meneruskan ciuman lagi dan tanpa fikir panjang aku langsung pulang dengan hati kecewa dan penisku masih menegang 100%, aku semakin gelisah karena tidak dapat menyalurkan gairah sexku lagi. Kemudian Aku ke kamar mandi dan mencoba mengingat kembali peristiwa tadi dengan Mbak Novi sambil aku bermasturbasi. Tiba-tiba terdengar suara orang mandi di rumah kontrakan sebelahku, kemudian aku melongok dan kulihat seorang gadis cantik, putih mulus sedang mandi telanjang bulat. Aku berhayal lagi hingga akhirnya aku bisa menyalurkan sexku lewat masturbasi.

Setelah kejadian itu aku tidak memiliki waktu lagi untuk berduaan dengan Mbak Novi karena selain isteriku sering di rumah akupun sibuk dengan kuliahku. Setelah beberpa bulan kami tinggal di rumah kontrakan tersebut kamipun pindah rumah. Dengan sedikit berat hati Mbak Novi melepaskan kami pindah rumah, tetapi aku masih menitipkan beberapa barang di rumahnya karena tidak muat dalam mobil. Seminggu kemudian aku datang siang hari ke rumah Mbak Novi untuk mengambil barangku. Kebetulan Mbak Novi sedang berduaan dengan anaknya. Pikiran kotorku mulai muncul, "Inilah saatnya aku bisa bermain cinta dengannya". Setelah mengobrol beberapa saat aku memberikan uang kepada anaknya dan menyuruhnya jajan di luar. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, setelah anaknya pergi aku langsung menciuminya dan diapun membalasnya bahkan dengan erangan yang lebih liar dari sebelumnya.

Sambila berciuman tanganku langsung kuarahkan ke dalam celana dalamnya dan memainkan gundukkan rambut kemaluannya dengan mengelus-elusnya. Kemudian mulutku beralih ke gundukan dua bukit yang menggemaskan. Kumainkan lidahku di sekitar puting sambil tanganku tetap bermain di lubang kemaluannya. Mbak Novi tidak dapat menahan seranganku karena rangsangan yang aku berikan membuatnya semakin mengerang dan memelukku erat-erat. Aku buka resluiting celana jeansku kemudian tangan Mbak Novi ku bimbing untuk memainkan penisku yang sudah mulai tegang. Dengan lembutnya Mbak Novi mengelus dan mengocok penisku. Keruan saja semakin lama penisku semakin tegang keras, dan rangsangan yang timbulkannya membuatku ingin sesegera mungkin memasukkannya ke liang kenikmatan Mbak Novi.

Kami berdua sudah tidak dapat menahan rangsangan lagi selanjutnya aku berjongkok untuk membuka celana pendek dan celana dalamnya. Kami sempat saling bertatapan seolah-olah sudah tidak bisa membendung lagi gairah yang muncul dan ingin secepatnya memasukkan rudalku ke lubang kemaluannya. Dengan hanya membuka setengah celana jeansku sebatas dengkul aku mulai mengambil alih posisi di atasnya. Untuk memberikan sensasi yang lebih aku gesekkan penisku di kemaluan Mbak Novi sehingga membuat Mbak Novi tidak kuat menahan rasa geli. Lama aku menggesek-gesekan penisku di atas lubang kemaluannya hingga aku lihat Mbak Novi sudah tidak tahan lagi, kemudian kau masukkan rudalku ke lubang kemaluan Mbak Novi yang wangi.

Perlahan aku tusuk rudalku dan Mbak Novi membuka lebar-lebar kakinya agar memudahkan rudalku masuk ke lubang kewanitaannya. Perlahan tapi pasti kejantananku memasuki lubang kenikmatan Mbak Novi dan eranganpun keluar dari mulut Mbak Novi yang semakin liar: "Oohh.. ohh Mas.. enak". Sambil memegang panggul dan pantatku Mbak Novi membantuku memasukkan dan mengeluarkan penisku dari lubang kemaluannya. Pada saat rudalku menusuk Mbak Novi menekan pantatku sehingga seluruh penisku masuk semuanya ke dalam lubang kenikmatan tersebut sambil aku putar pantatku.

"Oohh enak Mas.. terus.. Mas terus.. yang cepet ooh.. enak".

Vagina Mbak Novi memang kuakui sangatlah lain dan memiliki daya tarik dan daya rangsangan yang tinggi. Sewaktu aku menarik dan memasukkan penisku ke dalam kemaluannya sensasi yang aku terima begitu dasyat sekali karena dinding vaginanya menyempit ketika penisku masuk dan memijit-mijit batang penisku, ini sensasi yang baru buatku. Begitu nikmatnya vagina Mbak Novi, selain batang penisku dipijit-pijit oleh dinding vaginanya juga penisku serasa disedot setiap kali penisku di dalam vaginanya. Walaupun ukuran penisku standar tidak seukuran orang bule tapi sensasi lubang vagina Mbak Novi seakan-akan menyempit. Kami berdua saling mengerang kenikmatan, terlebih-lebih aku karena nikmatnya yang tiada tara.

Peluh keringat terus mengucur dan Mbak Novi masih tahan dengan gempuran rudalku. Kepala Mbak Novi semakin bergerak ke kiri dan ke kanan sambil terus tidak henti-hentinya mengerang dengan mata tetap tertutup merasakan kenikmatan gesekan rudalku. Aku ingin berganti posisi di bawah untuk menambah sensasi tapi Mbak Novi menolaknya karena takut dia tidak mendapatkan orgasme yang sebentar lagi akan datang. Dengan kecewa aku menuruti kemauannya walaupun aku merasa dengan posisinya di atas kenikmatan yang luar biasa akan kami peroleh. Aku semakin mempercepat gerakanku dengan maju mundur. Semakin cepat gerakkanku semakin aku merasakan ledakan akan keluar dari dalam tubuhku. Aku tidak tahan lagi dengan sensasi yang diberikan oleh lubang kemaluannya Mbak Novi yang dasyat itu, maka aku merasakan orgasmeku akan datang.

"Mbak enak banget.. ohh.. aku sampe nggak tahan nih.. ohh enak"
"Ohh Mas eenaak.. sekali.. terus Mas.. terus.. oohh.. hmm" aku semakin tidak tahan dengan erangannya yang membuatku semakin bernafsu.
"Ohh Mbak aku mau keluar Mbak.. bareng Mbak"..
"Oohh aku juga.. enak.terus.yang kenceng Mas.. ohooh.. Mas aku keluaarr.. hmm"
"Aku juga Mbak.. oohh.. aku keluar Mbak".

Lalu aku muncratkan spermaku di dalam vaginanya sambil aku peluk dia dan kukulum bibirnya yang mungil dan kami saling berpagutan berciuman merasakan kenikmatan yang sedang berlangsung. Semakin kencang spermaku keluar semakin kencang aku mencium dan menyedot bibirnya yang tentu saja membuatnya semakin menyedot pula dan mencengkeram serta memelukku erat karena tidak tahan dengan nikmatnya orgasme. Kami berdua sama-sama lemas dan masih merasakan sisa kenikmatan yang terakhir. Sambil masih terus berciuman dan rudalku masih menancap di lubang kemaluannya. Denyutan dari dinding kewanitaan Mbak Novi masih bisa aku rasakan di batang rudalku yang begitu nikmatnya.

"Aku senang Mas bisa ngeseks sama Mas,.. aku nggak nyesel kok" katanya sewaktu kami masih berpelukan.
"Aku juga seneng Mbak.. enak banget.. abis memek Mbak legit sih.. he he.. " candaku
"Mas bisa aja ah.. " sambil mencubit pinggangku Mbak Novi menunduk malu dan senang dengar pujianku.

kemudian kami membersihkan diri bersama-sama dan setelah itu berciuman lagi sambil berpelukan. Lama kami berpelukan sampai pada akhirnya aku pamitan karena takut suaminya pulang atau tetangga yang lain akan curiga. Dengan pandangan mata yang sendu Mbak Novi melepas aku pergi, aku tahu bahwa sebetulnya dia masih menginginkan penisku untuk dimasukkan ke dalam lubang kemaluannya lagi tapi karena sesuatu hal dia mengerti tidak mungkin melakukannya lagi.

Ini adalah pengalaman yang tidak bisa aku lupakan karena sampai saat ini belum pernah aku merasakan vagina yang senikmat Mbak Novi. Sebenarnya aku ingin sekali mencicipi vaginanya Mbak Novi tapi setelah kejadian itu kami tidak pernah bertemu lagi karena rumahku dan rumahnya berjauhan, selain itu aku dengar bahwa mereka juga telah pindah rumah ke orangtuanya. Berita yang terakhir aku dengar bahwa suami Mbak Novi, yaitu Mas Yanto menikah lagi jadi Mbak Novi di madu dan Mbak Novi semakin kesepian saja. Demikianlah sepenggal pengalamanku yang sangat mengasyikkan.