Skip to main content

Reuni Oh Reuni


wanginian
Semprot Kecil
Thread Starter

Daftar
10 May 2012

Post
97

Like diterima
35

18 Feb 2017

#1

“Mau nunggu di sini atau ikut naik?”tawarku.

Ia tampak bimbang. Pagi itu lobby hotel penuh dengan tetamu, sementara kursi di lobby pun penuh.

“Sudah. Ikut naik saja,”ajakku,”Aman, kok.”

Ia tersenyum. Sambil merapikan jilbabnya, ia mengikuti langkahku yang menuju lift. Begitu pintu lift terbuka, kami masuk. Berdua kami berada di lift yang dengan perlahan bergerak naik. Kupandang perempuan mungil yang berada disampingku itu dari kaca yang ada didepan kami. Wajahnya menunduk, menghindari tatapanku. Akhirnya lift berhenti di angka delapan dan pintu terbuka. Kupersilakan ia keluar, aku pun menyusul. Pagi itu lantai delapan masih sepi. Hanya terlihat bell boy yang menyapu lantai.

“Sebelah sini,”Kurangkul bahunya.

“Jangan,”ucapnya seraya melepaskan tanganku.

Langkah kami terhenti didepan pintu bernomor 832. Kukeluarkan kartu dari kantung baju dan menggeseknya di alat yang terdapat disamping pintu. Kubuka lebar pintu dan kupersilakan ia masuk. Karena kulihat ragu untuk masuk, kupegang tangannya dan kubawa masuk.

Setelah lampu menyala, kututup kembali pintu. kuambil perempuan itu ke dalam pelukanku. Ia diam dalam dekapanku, tapi perlahan tubuh mungil itu bergetar dan terdengar tangisnya. Kueratkan pelukanku dan kucium jilbabnya.

Tangisnya kian kuat. Rengkuhan tangannya ke punggungku pun mengerat. Kubiarkan air matanya menyerap di dada. Kubiarkan ia melepaskan beban yang ditanggungnya selama ini.

“Kakak jahat,”terdengar lemah ucapannya,”Kakak jahat.”

Kakak adalah panggilan sayang dia padaku ketika kami masih berstatus sepasang kekasih, masih berstatus mahasiswa. Kulepaskan pelukanku, kuangkat wajahnya ke arahku.

“Kakak jahat menghilang begitu saja.”

Aku hanya tersenyum kecut. Padahal aku tidak menghilang, aku tak akan pernah meninggalkan perempuan ini setelah kurenggut kehormatannya. Aku bukanlah lelaki tak bertanggung jawab. Masih kuingat saat itu, setelah lulus kuliah, aku datang ke rumah orang tuanya untuk meminta anaknya menjadi istriku. Tapi hanya penolakan yang kuterima karena saat itu aku masih pengangguran dan ia masih kuliah.

“Kakak jahat,”ucapan itu membuyarkan kenangan masa lalu itu.

Kuseka air matanya. Kucium lembut mata indahnya. Setelah itu kudekap kembali perempuan itu. Kubiarkan rindu ini merayap ke tubuhnya agar ia faham kalau aku tak melupakannya.

Akhirnya kududukkan ia ke tempat tidur, aku pun duduk. Kutatap wajahnya dan,”Maafkan Kakak kalau Kakak memang salah, tapi asal tahu saja, Kakak tak pernah melupakan kamu setelah apa yang pernah kita lakukan.

Kakak takut masa depanmu hancur karena cara berpacaran kita dulu.”

Ia menatapku sekejap untuk kemudian merunduk.

“Tapi, setelah mendengar kabar kamu telah mempunyai anak, rasanya bahagia sekali. Sumpah! Meskipun ada rasa sakit karena bukan aku yang menjadi ayahnya.”

Perempuan berjilbab itu tersenyum kecut.

“Aku kangen kamu.”Dibiarkannya tanganku mengelus pipinya.

Kuambil wajahnya dan kudekapkan ke dada. Kuciumi jilbabnya seperti dulu sering kulakukan. Bahagia pun mendekap hati ini. Pertemuan yang lama kuharap akhirnya terwujud juga.

Peran jejaring sosial memang sangat besar dalam pertemuan kami. Ketika menjadi anggota Facebook, aku menemukan banyak teman-teman lama, baik itu semasa es-em-pe, es-em-a maupun ketika kuliah, termasuk juga beberapa mantan teman dekatku.

Dari Facebook aku tahu kehidupan Sri, perempuan yang kini berada didepanku. Berkat Facebook pula kami berkomunikasi dan kini akhirnya bertemu.

Kutatap wajah itu. Belum banyak berubah, meskipun tubuhnya mulai melar. Ia pun menatapku, senyumnya mengembang, malu.

“Bisa minta air minum? Haus.”Ia mengalihkan perhatianku.

Segera aku beranjak ke lemari pendingin dan membukanya,”Mau minum apa?”

“Air mineral saja.”

Kuambil botol air mineral dan menyerahkannya. Perempuan itu menyambutnya, membuka penutupnya, dan menenggaknya langsung. Terlihat sekali kalau ia sedang kehausan.

“Haus sekali?”tanyaku setelah ia menaruh botol air mineral di tempat tidur.

“Iya-lah. Sejak kita ketemu di Gasibu, aku kan sudah empat putaran jogging,”ucapnya sambil merebahkan diri ke tempat tidur.”Penyakit lama Kakak nggak berubah rupanya.”

“Apa itu?”Aku pun merebahkan diri disampingnya.

Sri mengangkat kepalanya, menatap ke arahku, dan matanya melotot. Lalu,”Tak pernah meneraktir orang. Kalau diminta, baru mau keluar uang.”

Hahaha! Tawaku pecah.

“Kenapa tadi tidak minta?”tanyaku setelah tawa reda.

“Kakak ‘kan sudah gede sekarang, bukan mahasiswa lagi, mestinya sadar.”Sri mencubit pinggangku yang membuatku menggelinjang geli.

Cubitan Sri berubah menjadi gelitikan. Rupanya ia masih ingat kalau aku paling tidak suka kalau di kelitik. Aku menahan tangan mungil itu, coba menghentikan serangannya, tapi jemari Sri tetap menggerayangi bagian perut.

Sambil menahan tawa, tubuhku bergerak menghindari jari-jari itu. Akhirnya serangan Sri berhenti ketika wajah kami berdua saling berhadapan. Sri tampak terkejut menyadari aku sudah berada diatas tubuhnya, menyadari wajahku begitu dekat didepannya.

Kuambil kesempatan itu untuk mengambil bibirnya. Sri berontak, tapi kupegang kepalanya dan bibirku tak melepaskan bibirnya. Kupuaskan rinduku pada bibir merah itu.

Begitu bibir kami terlepas, serta merta Sri mendorong aku turun. Aku pun menggeletak disampingnya. Lama kami berdiam diri.

Sri bangkit dari tidurnya,”Antar aku pulang, Kak.”

“Mau kemana?”Aku turun dari tempat tidur.

“Aku baru ingat, ada tugas yang harus kukerjakan.”Dia menuju pintu.

“Tunggu. Aku mandi dulu.”Kuambil tangannya dan kududukkan kembali ke tempat tidur. Kunyalakan televisi agar dia ada kegiatan selama kutinggal mandi.

Segera aku masuk ke kamar mandi. Setelah melepaskan pakaian, aku pun membasahi tubuh. Sengaja tak kututup pintu kamar mandi karena takut perempuan itu pergi tanpa izin dariku.

Setelah mengeringkan badan, kulilit handuk ke pinggang dan keluar. Kulihat ia menatapku sekilas. Kubuka pintu lemari dan mengeluarkan tas. Dari tas kuambil kemeja, celana jeans, kaos dalam dan celana dalam.

Seperti tidak ada siapa-siapa di kamar, kulepaskan handuk. Dengan berbugil ria, aku mengusap ketiak dengan deodoran, menaburi tubuh dengan bedak, dan baru mengenakan celana dalam.

“Kamu nggak mandi?”Aku berbalik menghadap ke arahnya.

Ia melengos, tapi rona merah tampak di pipinya.

“Aku pipis dulu.”Sri bangkit dan masuk ke kamar mandi.

“Handuknya ada di hanger,”teriakku.

Setelah memakai jeans, aku duduk di tempat tidur dan menonton tv. Kuambil roti dan menyantapnya.

Tak lama kemudian Sri keluar dari kamar mandi.

“Belum berpakaian juga?”tanyanya ketika mendapati aku masih setengah bugil.

“Sarapan dulu, gih.”Kuulurkan roti ke arahnya dan ia pun menyambutnya.

“Mau sarapan, ndak?”tawarku,”Nanti aku pesan.”

Sambil duduk, ia menggeleng. Dan dalam diam, kami menyantap roti. Hanya terdengar suara televisi yang memenuhi kamar.

“Bandung banyak berubah, ya,”ucapku memecah hening.

Sri tersenyum seraya menatapku. Dia tahu kalau itu basa-basaku.

“Sudah sarapannya?”tanyanya.

Seraya menelan habis roti yang ada di mulut, aku mengangguk. Kuambil botol air mineral dan meneguknya.

“Kamu ndak minum?”Kuulurkan botol air mineral ke arahnya.

“Ma kasih,”ucapnya seraya berdiri, berjalan menuju pintu dan membukanya.

Dengan tergesa aku mengenakan kaos, mengambil kunci kamar, dan menyusulnya. Sri sedang menunggu lift terbuka. Segera kujajari ia dan kami pun tertelan lift.

“Kamu ndak suka bertemu aku?”tanyaku seraya menatap wajahnya dari kaca didepan kami.

Dari kaca didepan kami ia balik menatapku. Kepalanya menggeleng. Kurasakan tanganku diremasnya, aku pun balik meremasnya. Di lantai enam, pintu terbuka dan sepasang muda-mudi berangkulan mesra masuk. Tanpa sungkan mereka memperlihatkan kemesraan mereka, sementara kami berdiri berjauhan seperti tak kenal satu sama lain.

Di lantai tiga, pasangan muda-mudi itu keluar, meninggalkan kami berdua. Lift terus meluncur turun. Kurangkul pundaknya, perempuan itu tak memberikan reaksi. Dibiarkannya kucium pipinya.

Saat lift tiba di lantai dasar, kulepaskan rangkulanku. Pintu lift pun terbuka. Kami keluar. Lobby hotel masih ramai. Seperti orang bingung, langkah kami terasa kaku. Kami kehilangan tujuan. Mau kemana kami ini? Terus keluar hotel atau kembali naik ke kamar?

Sungguh aneh! Seperti tak ada kekuatan, tubuh kami terdorong masuk kembali ke lift dan akhirnya berdampingan kami berdiri didepan pintu kamar. Pintu pun terbuka dan kami terhempas masuk.

Segera kuambil tubuhnya dan perempuan berjilbab itu pasrah dalam dekapan. Kujarah setiap jengkal wajahnya dengan penuh hasrat. Akhirnya kudorong tubuhnya terlentang di tempat tidur dan kunaiki. Bibir kami bertaut ganas. Napas birahi pun memenuhi kamar.

Kutarik lepas jilbabnya dan kutelanjangi tubuhnya. Kuciumi payudaranya sepuas mungkin dan sesekali kuremas dengan buas.

Ditutupinya benda-benda berharga miliknya dengan kedua tangannya ketika aku berdiri didepannya, memandang tubuh bugilnya. Setelah melepaskan pakaian, kubuka lebar pahanya dan kuarahkan mulutku ke selangkangannya. Bau khas dari liang kewanitaan yang menyebar disekitarku membuat hasrat untuk menjamahnya membutakanku. Segera kujilati lubang itu, membuat tubuhnya menggelinjang. Napasnya menderu kala bibirku menggigiti daging yang ada dilubang kewanitaannya. Sambil mencumbu selangkangannya, tanganku pun sibuk menjamah gunung-gunung diatasku.

Tanpa melepaskan lubang kewanitaannya, aku bergerak naik ke atas. Kunaiki tubuhnya dan kujejalkan senjataku ke mulutnya. Segera dikulumnya daging mengeras itu dan dengan pelan kugerakkan maju mundur. Sementara itu aku tak lupa dengan alat kelaminnya. Desahnya terdengar setiap kali lidahku memainkan kelentitnya.

Kucabut kontolku dari mulutnya, aku pun meninggalkan tubuhnya dan kembali turun ke bagian bawah tubuhnya. Kuambil bantal dan kutaruh dibawah pantatnya. Kubuka lebar pahanya dan kudekatkan senjataku ke selangkangannya. Napasnya tertahan ketika daging itu mengenai lubang diselangkangannya. Kudorong alat kelaminku masuk ke lubang berlendir itu perlahan, tapi susah. Akhirnya, dengan bantuan tangan, kubuka kelaminnya dan kudorong masuk senjataku. Kulihat matanya terpejam menikmati senjata musuhnya yang mulai merayap masuk.

Sengaja kutarik sedikit senjataku untuk kumasukkan kembali. Lalu kutarik lagi dan kutahan sebentar untuk kembali kuhujamkan sedikit. Begitu terus hingga akhirnya tangannya menempel di pantatku dan ditekannya ke depan hingga alat kelamin milikku masuk sempurna. Tidak sabaran rupanya, dia.

Kulebarkan pahanya dan dengan leluasa senjataku kumajumundurkan berkali-kali, sementara desahannya terdengar keras.

“Kak!”Kata itu terdengar cukup keras disela-sela desahannya.

Kutarik lepas kontolku dari lubang kelaminnya, kubalik badannya. Aku berdiri dibelakangnya, kuangkat pantatnya meninggi dan kembali kuarahkan senjataku masuk ke lubang bersemak itu.

Tubuhnya bergerak maju mundur terkena seranganku dan teriakan khasnya pun kembali terdengar. Kutempelkan dada ke punggungnya dan kuremas payudaranya yang menggantung pasrah itu.

“Kak!”Lenguhannya terdengar ketika kontol kutarik keluar. Ia pun terbanting ke kasur. Tanpa memberinya kesempatan bernafas, kuterlentangkan tubuh telanjang itu dan kembali kuserang lubang miliknya. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi dan kusodok selangkangannya. Maju mundur senjataku menusuki alat kelaminnya.

Terdengar nada panggil dari handphonenya, tapi tak kuhiraukan. Aku tetap menerjang lubang yang dulu, ketika masih kuliah, selalu kudatangi dan kuobrak-abrik itu.

Ia menahan gerakanku, tapi tak kuhiraukan. Aku hampir sampai. Kurasakan cairan dari senjataku hendak keluar, jadi kuabaikan keinginannya. Kupercepat gerakan kontolku yang maju mundur di lubang itu sementara desahannya pun kian cepat dan keras.

“Aku mau keluar.”Kueratkan pelukan ditubuhnya. Bersamaan dengan semprotan spermaku di kekedalaman lubang kewanitaan itu, kontolku pun kian cepat menusuki alat kelaminnya.

Kuhentikan serangan rudalku setelah senjataku berhenti memuncratkan sperma. Sri membiarkan aku yang terkulai diatas tubuhnya menikmati kemenanganku.

Setelah kesadaranku kembali, kutinggal lubang berlendir itu dan turun ke sampingnya. Kembali nada panggil terdengar. Ia beringsut mengambil tasnya dan mengeluarkan Blackberry. Setelah mengatur napasnya yang turun naik, ia menjawab panggilan itu.

Aku turun dari tempat tidur, membuka lemari es, mengambil kaleng minuman dan meneguknya. Setelah itu kembali duduk di tempat tidur, memperhatikan perempuan telanjang yang berdiri membelakangiku didekat jendela kamar.

Kenanganku kembali ke masa-masa kuliah dimana semua perilaku anak muda diukur berdasarkan kesenangan, bukan akal sehat. Sebagai mahasiswa perantauan yang jauh dari orang tua, pergaulan kami lumayan bebas.

Kehidupan anak muda memang begitu melenakan. Dasar pendidikan Sri yang pesantren tak bisa meredam perilaku nakalku. Atas dasar cinta kupaksa ia untuk mengikuti hasrat bejatku.

Seperti perempuan Timur lainnya, Sri masih buta sama sekali dengan kehidupan seks. Berkat akulah ia mengenal lawan jenisnya dan untuk pertama kalinya pula ia melihat pria yang telanjang. Ia pun tahu bagaimana bentuk alat kelamin lain selain miliknya serta dapat memegang dan menghisapnya. Sejak berpacaran denganku, ia telah merasakan surge dunia.

Tapi, aku masih punya akal sehat. Setiap kami making in love, baik itu di kamar kostku, di kamar kostnya atau pun di hotel, aku selalu membuang sperma di luar. Aku tak mau married by accident. Malu karena Sri adalah alumni pesantren dan Bapaknya pun kuat dengan agama.

Lamunanku buyar. Kualihkan pandanganku ke Sri yang sedang berpakaian.

“Nggak mandi dulu?”

Kepalanya menggeleng. Kulihat matanya memerah karena air mata. Masih anak pesantren juga rupanya, gumamku.

“Kenapa terulang lagi, Kak?”tanyanya disela kesibukannya merapikan pakaiannya.

Aku hanya terdiam menatapnya. Aku tak bisa berbicara karena aku yang memang salah mengajaknya ke kamar ini. Kembali iblis memenangkan pertarungan diantara kami, seperti dulu. Ternyata pesona surga dunia tak memandang usia dan tak pula melihat status pernikahan. Tak kuat iman, maka terjatuhlah manusia.

Kuambil Sri dalam pelukanku.

“Aku ada suami dan anak, Kak,”ucapnya pelan sembari menolakku.

Aku terdiam mematung.

“Kakak tak perlu mengantarku,”ucapnya disela isak tangisnya.”Ternyata kita tetap tak bisa bersikap dewasa, Kak.”

Akhirnya, perempuan itu berlalu dari hadapanku. Kamar hotel pun sepi. Aku masih mematung dan tak bisa bersikap.

Sekali lagi aku kehilangan perempuan itu.

Popular posts from this blog

ISTRI BINAL

Namaku Kevin berumur 33 tahun, dan istriku bernama Risnawati 29 tahun, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Aku selalu merasa bergairah bila melihatnya mengenakan pakaian sexy, terlebih bila pakaiannya bisa dibilang sangat sexy untuk mengundang beribu pria menelan ludah karena melihatnya.

Gairah Siswi PKL

simas_ardi
simas_ardi
Semprot Kecil
Thread Starter

Daftar
24 Apr 2011

Post
52

Like diterima
8

23 Sep 2011

#1

Dulu aku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang automotive di daerah Bekasi. Ditempat itu, sebut saja PT. BT, jumlah karyawannya cukup banyak. Tapi bukan itu yang menyebabkan aku menurunkan tulisan ini. Selain karyawan, disana terdapat beberapa siswi yang sedang melakukan PKL. Diantara siswi tersebut, salah satu diantaranya, telah membuat aku seperti kembali merasakan cinta (yang dulu pernah hilang bersama Galuh).

Siswi tersebut, kita sebut saja namanya Muti, diperbantukan di departemen Personalia, sedangkan aku, bekerja di departemen PPIC. Sebenernya ruang kerja kami agak berjauhan, tetapi karena sama-sama mengerjakan jenis pekerjaan yang menyangkut dengan data, maka setiap hari, kami selalu bertemu ditempat foto copy.

Awalnya sih, aku hanya sekedar mengagumi kecantikannya, karena dengan hidung yang bangir, bentuk bibir ya…

Diperkosa Teman Suami

Sebut saja nama ku Lela, wanita umur 28 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran buah dada 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang mengelilingi mobil yang aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi untuk melihatku. Menikah dengan Budiman, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Budiman dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Budiman berangkat kerja dan malam sebelum tidur. Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Budiman bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja Lembur, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan …